Breaking News:

Petani Sulit Dapatkan Pupuk Bersubsidi, DPRD Minta Pemkab Cari Solusi Kongkrit

Komisi II DPRD Kabupaten Ogan Komering Ilir memanggil instasi terkait, membahas persoalan kelangkaan pupuk yang dikeluhkan petani

Editor: Azwir Ahmad
ho/sripoku.com
Komisi II DPRD Kabupaten Ogan Komering Ilir, memanggil sejumlah pejabat terkait termasuk para distributor dan pengecer pupuk di OKI, Selasa (16/2/2021). 

SRIPOKU.COM, KAYUAGUNG - Merespon banyaknya keluhan petani yang kesulitan dalam mendapatkan pupuk bersubsidi di pasaran.

Maka Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, memanggil pejabat terkait di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) OKI, sekaligus  para distributor dan pengecer pupuk.

Saat membuka rapat, Ketua Komisi II DPRD OKI, Marzuki menjelaskan bahwa kelangkaan pupuk merupakan persoalan serius bagi petani.

"Tidak seharusnya Kabupaten OKI yang menjadi lumbung pangan terbesar ketiga Provinsi Sumatera Selatan. Petaninya dirundung permasalahan yaitu sulitnya mendapatkan pupuk bersubsidi dari pemerintah," kata Marzuki membuka rapat, Selasa (16/2/2021).

Dikatakan lebih lanjut, Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Sumatera Selatan, I Made Irawan jika kelangkaan pupuk telah dirasakan petani sejak tahun 2020 lalu.

"Kenapa di tahun 2019 dan 2018 tidak ada warga yang meributkan kelangkaan pupuk bersubsidi. Barulah tahun lalu terdapat banyak keluhan petani yang menyatakan sangat sulit mendapatkan pupuk bersubsidi dari pemerintah," 

"Sedangkan di tahun 2019 dan 2020 pupuk subsidi yang dialokasikan jumlahnya sama, namun di lapangan justru banyak keluhan yang dirasakan para petani," ungkap Made yang juga merupakan politisi dari partai PDIP.

Ia mengaku kerap dicecar pertanyaan tentang kelangkaan pupuk saat kembali ke daerah pemilihannya di dapil 5 yang meliputi Kecamatan Lempuing dan Lempuing Jaya.

Tidak hanya dirinya, para anggota komisi yang sama pun kerap mendapat keluhan hilangnya pupuk di peredaran.

"Karena mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani sawah, jadi hampir setiap hari kita dikritik masalah pupuk. Pupuk ini merupakan harga mati bagi petani, petani tidak tidur kalau tidak ada pupuk di dalam rumah," ujarnya dengan tegas.

Halaman
12
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved