Breaking News:

REI Sumsel Optimistis Jadi Garda Terdepan Pemulihan Ekonomi Nasional

REI Sumsel, bisnis properti menjadi salah satu bisnis yang masih bisa bertahan di masa pandemi meski pertumbuhannya tahun lalu tidak signifikan

Hangout
Ketua DPD REI Sumsel Zewwy Salim didampingi seluruh kepengurusan melakukan bakti sosial ke panti asuhan Fatmawati dalam rangka memperingati HUT REI ke-49 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Bisnis properti diprediksi akan kembali pulih kuartal kedua tahun ini seiring dengan temuan vaksin Covid-19 yang sudah mulai dilakukan saat ini.

Ketua DPD Real Estate Indonesia atau REI Sumsel, Zewwy Salim mengatakan, bisnis properti menjadi salah satu bisnis yang masih bisa bertahan di masa pandemi meski pertumbuhannya tahun lalu tidak terlalu signifikan.

Secaa nasional bisnis properti tahun lalu tumbuh sekitar 3-4 persen, bahkan khusus Sumsel sempat minus pada kuartal ketiga 2020.

"Optimis tahun ini bisnis properti bagus karena permintaan masih bagus dan kebutuhan rumah masih sekitar 500 ribu rumah di Sumsel," kata, Ketua DPD REI Sumsel Zewwy Salim, ditemui disela HUT REI ke 49 yang digelar secara virtual, Kamis (11/2/2021).

Semangat HUT REI katanya akan menjadi pemacu seluruh anggota semangat mewujudkan target pemenuhan kebutuhan rumah tahun ini.

Apalagi anggota Rei semakin banyak sehingga pemenuhan kebutuhan rumah juga semakin banyak.

Dari sisi pembiayaan perbankan juga siap kembali menggelontorkan kredit rumah FLPP sebanyak mungkin karena Sumsel tidak ditetapkan berapa banyak kuota yang bakal didapat.

Tapi DPD REI Sumsel sendiri menargetkan bisa menjual 15 ribu rumah tahun ini.

"Secara nasional kuota REI 157.500 unit rumah FLPP atau naik 53 persen dari target tahun lalu," ujar Zewwy.

Semangat ulang tahun REI mengusung tema garda terdepan pemulihan ekonomi nasional, karena industri properti merupakan bisnis yang luas dampaknya karena bisnis ini memiliki 17 hubungan industri, langsung dan 176 industri turunannya.

Jika semuanya terhambat maka bisa dibayangkan betapa luas dampaknya.

Begitu juga sebaliknya jika tidak ada hambatan maka semua sektor industri yang terkait properti ikut terseret naik dan membuat pertumbuhan ekonomi ikut terkerek.

Dari sisi harga, rumah bersubsidi untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) harganya masih sama seperti tahun lalu yakni Rp 150.500.000.

"Lebih dari 90 persen bisnis properti ini didominasi oleh permintaan rumah MBR karena kebutuhannya memang maish banyak," tutupnya.

Editor: adi kurniawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved