Breaking News:

Beragama

Beragama Dalam Kehidupan Tapi  “Salah Faham”

Tulisan ini akan menyorot satu hal saja; “mengapa bisa salah faham dalam ber­a­ga­ma?” A­lasan saya membuat tulisan ini ada ceritanya.

ist
Muhammad Noupal 

Begitu juga belajar di madrasah, mencium tangan ustadz dan berpakaian seperti ulama.

Saya tidak menyalahkan Dayat yang berpikir seperti itu.

Saya hanya mempermasalahkan waktunya; “kan masih SD” ?

Dalam proses pengajaran agama kita, orientasi akhirat menjadi tema penting dalam se­tiap ceramah.

Mungkin maksudnya; umat Islam itu tidak boleh lalai akhirat kare­na urusan dunia.

Praktisnya, masyarakat diajak untuk sholat, puasa atau belajar aga­ma agar masuk surga.

Beragama karena itu bertujuan masuk surga. Pemahaman “ma­suk surga” inilah masalah si Dayat.

Tentu saja masuk surga harus kita prioritaskan.

Tetapi jalan menuju surga tentu ti­dak hanya dengan ibadah; karena ibadah hakikinya adalah kewajiban.

Alquran sen­diri menjelaskan factor lain; yaitu iman dan amal soleh.

Keduanya juga dapat mem­buat kita masuk surga.

Lalu apa yang salah dari pemikiran Dayat?

Salah Tafsir

Ajaran agama kita memang bersumber dari Alquran dan hadis. Setiap ada masalah, kita mencari jawaban dari keduanya.

Kita kemudian membuat satu kesimpulan; se­tidaknya untuk diri kita sendiri.

Kasus paling jelas adalah ketika kita membahas QS. Al-Maidah; 51.

Ayat ini kita bicarakan dalam ruang politik Indonesia.

Saya yakin an­da juga pernah menyimpulkannya.

Karena itulah  pemahaman kita tentang Al qur­an (maksudnya ajaran agama), dapat masuk pada kriteria tafsir.

Kita saat itu “me­nafsirkan” sendiri ajaran agama kita.

Kita juga kemudian membuat kesimpulan.

Sa­lah faham beragama karena itu kita maksudkan sebagai salah tafsir beragama.

Kembali kepada si Dayat, ia mencoba menafsirkan ajaran agama untuk dirinya.

Tapi sayangnya “salah”; sekalipun menurutnya “benar”.

Kesalahan Dayat karena ti­dak memiliki pengetahuan terhadap tiga aspek tadi; akidah, syariah dan akhlak.

Mung­kin Dayat lebih berorientasi akidah. Bahwa ia percaya kepada Allah dan ka­re­na itu ingin masuk surga.

Tetapi Dayat juga lupa bahwa ia harus bersyariat; mencari a­mal baik buat dunianya.

Bagi anak sekolah, amal baik duniawi mereka adalah be­lajar.

Salah faham “hanya untuk akhirat” itulah inti dari masalah Dayat; dan mung­kin hampir kebanyakan umat Islam di sekitar kita.

Beragama tapi salah faham masuk dalam konsep ghurur; artinya tertipu.

Di­sang­ka­nya benar padahal salah.

Orang yang ghurur bukan dari kalangan awam saja.

Para u­lama (atau yang menyebut dirinya ulama) juga pernah mengalaminya.

Mereka pernah salah faham, salah menafsirkan dan salah menyimpulkan ajaran agama.

Se­babnya karena satu hal.

Mereka tidak bisa melihat akidah, syariah dan akhlak dalam sa­tu kaitan.

Mereka cenderung membuat sekat; “kalau tidak sama berarti beda”.

Persoalan masyarakat kita terletak pada pemahaman yang tidak komprehensif.

Me­reka cenderung melihat hanya satu sisi.

Dalam ilmu tafsir, pendekatan tunggal akan le­bih cenderung subjektif.

Artinya benar menurut dia saja.

Saya menyebutnya masih sempit.

Seperti katak dalam sepatu.

Sepatunya Dayat.

Banyak penceramah kita yang juga berpikir sempit.

Terbiasa berpikir satu arah.

Bu­kan saja di dunia sunni; tapi juga syiah.

Bukan NU-Muhammadiyah; lebih parah la­gi salafi dan penganut khilafah.

Berpikir satu arah membuat mereka tidak berani mem­baca buku-buku lain.

Jangankan karya orientalis, membaca buku filsafat saja ti­dak mau.

Apalagi buku tentang budaya dan sastra.

Akibatnya mudah ditebak.

Ba­nyak hal dikatakan sesat.

Lagu “Naik-Naik ke Puncak Gunung” malah bisa mem­buat murtad.

Hanya karena ada “pohon cemara”.

Hanya Saran

Jawaban Dayat dalam dialog dengan saya itu karena satu hal; malas belajar.

Harus kita akui bahwa “jam belajar” masyarakat kita sangat terbatas.

Mereka hanya bela­jar ketika di sekolah.

Bagi mereka yang gemar majelis taklim, belajarnya hanya di ma­jelis taklim.

Bagi santri tahfiz, belajarnya hanya hapalan saja.

Bagi penceramah, belajarnya hanya di pesantren saja.

Di luar itu, rasanya facebook dan youtube jauh lebih menarik.

Ada baiknya anak-anak kita tidak dibebankan dahulu dengan pemikian “hanya” a­khirat.

Bagi mereka, proses belajarnya sendiri bisa mendapatkan pahala yang besar.

Jan­ji bahwa Allah akan memudahkan langkah mereka menuju surga kalau menuntut ilmu; tidak lain adalah stimulus dari kanjeng Nabi.

Bahkan, Nabi sendiri lebih me­milih mereka yang berada dalam majelis ilmu daripada majelis zikir.

Orientasi hanya akhirat akan membuat anak-anak kita tidak siap bersaing.

Tentu saja bukan persaingan menuju surga; tetapi persaingan besar masyarakat dunia.

Pa­da tahun-tahun mendatang, kita masih memerlukan banyak tehnisi, insinyur, dokter, guru, pengusaha dan wirausahawan muslim.

Merekalah yang nanti akan mem­be­ri­kan bantuan dan manfaat kepada kita, dan umumnya kepada sesama manusia.

Yang penting mereka jangan berhenti sekolah; apalagi cuma sampai SD.

Editor: Salman Rasyidin
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved