Pemprov Kaji Pembukaan Kembali Tempat Isolasi Pasien Covid-19, Isolasi Mandiri Tidak Efektif
Pemprov kaji pembukaan kembali rumah isolasi covid-19. Positivity rate sebesar 27, 68 persen, standar WHO 5 persen
Penulis: Jati Purwanti | Editor: Azwir Ahmad
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Pemerintah provinsi Sumatra Selatan tengah mengkaji konsep berupa opsi tempat isolasi bagi pasien Covid-19.
Adapun tiga opsi tersebut yaitu pembukaan kembali Rumah Sehat Covid-19 Jakabaring, pengaktifan rumah sakit darurat dan tempat isolasi di tiap kabupaten dan kota di Sumsel .
"Kami memberikan saran kepada Dinas Kesehatan untuk menyediakan tempat isolasi. Ini Belum final atau masih dalam kajian sebelum disampaikan ke dinas kesehatan" ujar Asisten III Gubernur Sumsel, Edwar Juliartha, usai rapat Tim Tenaga Ahli Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 perihal Kajian Tempat Isolasi Covid-19 di Command Center Pemprov Sumsel, Rabu (3/2/2021).
Edwar mengatakan, hingga kini belum dapat memastikan opsi terbaik yang nantinya akan dipilih. Hal ini karena masih akan dilakukan kajian terkait sumber daya yang akan ditugaskan di tempat isolasi, keuangan hingga tempat yang dipilih sebagai tempat isolasi.
"Opsi terdekat belum ada. Opsi ini ada plus dan minusnya, kendala juga. Masing-masing daerah pun belum semuanya memiliki tempat isolasi khusus. Nantinya ada rapat lanjutan dengan Dinas Kesehatan," kata dia.
Menurut Edwar, untuk menyiapkan tempat isolasi juga harus melihat dari sisi tipologi sebab hampir sama di semua daerah. Disiplin protokol kesehatan yang masih belum optimal pun termasuk hal pokok yang menjadi pertimbangan dalam penyediaan tempat perawatan khusus orang yang dinyatakan positif Covid-19.
"Infodemik yang membuat orang masih multitafsir Covid-19. Jika Covid-19 adalah aib dan persoalan vaksin. Penerapan protokol kesehatan di berbagai acara termasuk pernikahan pun masih belum bisa dikatakan baik," ujarnya lagi.
Menurut Epidemiologi Universitas Sriwijaya, Iche Andriany Liberty, ketersediaan tempat isolasi Covid-19 dinilai mendesak karena sejak beberapa bulan lalu atau sejak proporsi pasien yang melakukan isolasi mandiri telah mencapai 71,9 persen.
Apalagi, sejak Rumah Sehat Covid-19 Jakabaring ditutup, diyakini Iche, sudah termasuk urgen untuk kembali dibuka dengan pilihan tiga alternatif yang tengah disiapkan pemprov Sumsel.
"Sangat urgen karena berdasarkan data jumlah orang melakukan isolasi mandiri di Sumsel hingga 30 Januari itu 71,09 persen lakukan isolasi mandiri kasus aktif di Sumsel," ujar Iche.
Iche menambahkan, peningkatan jumlah masyarakat melakukan isolasi mandiri kemungkinan tidak adanya kepastian berjalan dengan baik.
"Apakah isolasi mandiri sesuai syarat, dengan patuh dilakukan? Kalau tidak mematuhi dan pemantauan tidak optimal itu menyebabkan penularan di keluarga. Tempat isolasi di rumah belum tentu memadai," jelasnya.
Iche menyebutkan, peningkatan kasus terjadi sejak Desember 2020. Namun, bila dirincikan pada rentang Desember - Januari ada 2.370 kasus, sedangkan pada Januari - Februari tercatat ada 2.476 kasus.
Selain itu, penambahan 1.000 kasus positif pun menjadi semakin pendek yaitu hanya membutuhkan waktu 11 hari padahal sebelumnya 13 hari.
"Kalau dianalisis April-Desember penambahan ini besar. Bisa jadi karena tidak optimal 3M dan 3T yang tidak optimal. Harus keduanya optimal," kata dia.
Adapun angka kesembuhan pasien Covid-19 di Sumsel tergolong tinggi atau 82,30 persen, kasus aktif menurun dibanding angka nasional dan kematian juga menurun atau hanya 4,90 persen.
"Tapi apa gunanya kasus positif terus bertambah, perlu ada tempat isolasi mandiri benar patuh atau sesuai syarat. Apalagi, gambaran kontak erat bisa jadi konfirmasi kontak erat 13 persen jadi konfirmasi," terang dia.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Sumsel, pada 2 Februari lalu positivity rate di Sumsel sebesar 27, 68 persen, sementara standar dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 5 persen.
Dijelaskan Iche, penambahan kasus ini bukan karena pemeriksaan yang masif. Kondisi ini berbeda dengan kuantitas pemeriksaan yang dilakukan pemerintah.
"Saya bilang karena tes masif tapi itu dulu. Sekarang drop ke 20 persen ini gambaran kalau penularan di masyarakat masih terus terjadi dengan cepat," jelas dia.
Euforia masyarakat menyambut vaksin Covid-19 pun disinyalir turut menyumbang peningkatan kasus. Terutama, saat mobilitas meningkat sementara masyarakat mulai kendor dalam menerapkan protokol kesehatan dalam keseharian
"Ini juga karena informasi keliru sehingga masyarakat kurang percaya dengan pemerintah. Informasi dokter meninggal berpengaruh padahal hasil klarifikasi bukan karena vaksin," kata Iche.(mg3)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/mawardi-yahya-rumah-sehat-covid-19.jpg)