Breaking News:

Cerita Serial Mawar Mewangi 13) - Moncong Pistol

Taici secara kebetulan keluar dari gedung berlantai tiga sekadar untuk 'makan angin' melihat semak belukar tak jauh dari tempatnya berdiri bergerak ..

Editor: aminuddin
ISTIMEWA
Ilustrasi 

Supaya tidak bergerak kemana-mana.

Tangan dan kaki diikat.

"Lepaskan saya nona polisi," rengek Taici.

Dia meronta.

Dia 'terajangkan' pintu mobil.

Dibalas Santi dengan memukul dengkul Taici.

Uuugh ...

"Saya tembak atau diam?" Santi menempelkan moncong pistol ke alat kemaluan Taici.

"Pilih sekarang.

Diam atau saya tembak rudal kamu.

Paham?"

"Paham nona."

"Apa?"

"Diam nona."

"Bagus."

Mulut disempal, kedua tangan dan kaki diikat, Taici tak berdaya.

Jangankan berteriak, berucap saja dia tak bisa.

Mulut terkatup rapat.

Ditutup dengan lakban.

"Ayo Non Santi!"

Berdua Rahman, Santi mengendap-endap menuju markas Siao Lung.

Letnan Sayuti menyusul belakangan.

Dia berhenti di pintu pagar.

Pintu besar terkunci amat rapat.

Pintu kecil terbuka.

Tidak terkunci.

Iiiiech ..

Iiiiech ..

Tak juga bisa masuk.

Mencoba memanjat, tapi tak bisa.

Justru terjatuh.

Nyaris masuk parit.

Gedebug ....

Rahman dan Santi menoleh.

Geli bercampur kasihan ...

"Biar aku saja.

Kamu awasi di sini ..," kata Rahman.

Dia berharap incaran mereka di dalam gedung tidak mengetahui kondisi terkini di luar gedung.

"Tarik Man.

Cepaat!"

Sekuat tenaga ditarik, Letnan Sayuti belum juga bisa bangun dari jatuhnya.

Santi turun tangan ...

Keduanya menarik sekuat mungkin tangan Letnan Sayuti.

Sampai memerah muka keduanya.

Sempat terduduk ketika berhasil menarik tangan Letnan Sayuti.

Bangun dan berdiri sambil berpegangan di tiang besi pagar.

Cerita Serial Mawar Mewangi (13)

Moncong Pistol

Oleh WAK AMIN

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved