Breaking News:

Soal Unrealized Loss di Saham, Ini Penjelasan BP Jamsostek

Unrealized Loss BP Jamsostek merupakan kondisi penurunan nilai aset investasi Saham sebagai dampak dari fluktuasi pasar modal tidak bersifat statis

handout
BPJS Ketenagakerjaan (BP Jamsostek), tetap mencatatkan hasil positif pada kinerja institusi, sepanjang tahun 2020 

SRIPOKU.COM, MUARA ENIM --- Unrealized Loss BP Jamsostek merupakan kondisi penurunan nilai aset investasi Saham atau Reksadana sebagai dampak dari fluktuasi pasar modal yang tidak bersifat statis.

Unrealized Loss tidak merupakan kerugian, selama tidak dilakukan realisasi penjualan aset investasi Saham atau Reksadana yang mengalami Unrealized Loss tersebut, Kamis (28/1/2021).

Menurut Deputi Direktur Bidang Humas dan Antar Lembaga BPJS Ketenagakerjaan, Irvansyah Utoh Banja, sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2013 dan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2015 mengatur tentang batasan investasi BPJAMSOSTEK, termasuk tentang investasi BP Jamsostek pada instrumen investasi terkait pasar modal seperti saham dan Reksadana.

Pada Desember 2020, sebanyak 25% dari dana kelolaan BP Jamsostek ditempatkan di Instrumen terkait pasar modal, dengan perincian Surat Utang 64%, Saham 17%, Deposito 10%, Reksadana 8%, dan Investasi langsung 1%.

"BP Jamsostek hanya melakukan realisasi penjualan aset investasi pada saham atau Reksadana yang dipastikan telah membukukan keuntungan," ujar Irvansyah.

Dikatakan Irvansyah, unrealized loss ini merupakan risiko yang tidak dapat dihindarkan setiap investor, termasuk BP Jamsostek, saat melakukan penempatan dana pada instrumen investasi di pasar modal seperti Saham dan Reksadana.

Namun perlu digarisbawahi bahwa Unrealized Loss ini dipastikan akan mengalami recovery kembali, seiring dengan dinamika pasar modal bahkan berbalik menjadi Unrealized Gain/Profit .

Sepanjang unrealized loss ini disebabkan oleh Aset investasi yang memiliki kualitas fundamental emiten bagus, seperti saham dalam indeks LQ45, yaitu 45 saham pilihan BEI yang memiliki kriteria tertentu seperti berkapitalisasi besar, paling likuid, memiliki kondisi keuangan baik dan prospek pertumbuhan tinggi untuk periode setiap enam bulan.

Untuk itu, lanjut Irvansyah, BP Jamsostek memastikan 98% portofolio saham ditempatkan pada emiten berkategori LQ45 atau Blue Chip dengan fundamental yang sangat baik, sedangkan 2% pernah masuk deretan LQ45.

Dinamika pasar saham selama masa pandemi Covid-19 memukul kinerja seluruh emiten, hingga IHSG menyentuh level 3.900an pada Maret 2020, namun kembali menyentuh level 6.000 pada Desember 2020.

Halaman
123
Editor: adi kurniawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved