Breaking News:

Hutan Tanaman Industri

Praktek Pengelolaan Hutan Tanaman Industri yang Lestari

Pengelolaan lahan gambut sangat membutuhkan pemahaman lokasi dan kawasan serta ke­te­r­ka­itan antar pengguna lahan di kawasan tersebut.

Editor: Salman Rasyidin
SRIPOKU.COM/EVAN HENDRA
Ilustrasi Salah satu lokasi Hutan Industri yang terbakar, Petugas berusaha memadamkan api. 

Perlu dikaji lebih da­lam berbagai upaya pemberdayaan masyarakat.

Upaya-upaya pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh PT. SHP terhadap ma­sya­rakat yang berada di sekitar merupakan salah satusolusi yang menekankan pada Ekonomi, kelem­ba­gaan dan peningkatan kapasitas Peran Sinergis multipihak secara ke­berlanjutan yaitu ada­lah program DMPA (Desa Makmur Peduli Api)

Program DMPA ini merupakan sebuah pendekatan yang terpadu bersama dengan ma­syarakat desa untuk melindungi lahan hutan, terutama dari bahaya kebakaran.

Dengan berbasis kon­sep agroforestry dalam implementasinya, DMPA bertujuan untuk:

1.      Meningkatkan ekonomi dan ketahananpangan

2.      Kejelasan Tata batas desa dalam kawasan hutan

3.      Menguatkan relasi yang harmonis

4.      Memperkuat dukungan terhadap implementasi pengelolaan hutan lestari yang ter­padu

5.      Meningkatkan partisipasi masyarakat untuk mencegah gangguan hutan

6.      Mencegah dan menyelesaikan konflik lahan.

C.    Persfektif Kelembagaan

Adalah sebuah perspektif yang lebih menekankan pada peningkatan kapasitas ke­lem­bagaan ba­ik diinternal perusahaan maupun di luar dari perusahaan yang bertujuan un­tuk mencegah dan menanggulangi terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

Peningkatan ini bersifat me­nye­lu­ruh dimulai dari Sumber Daya Manusia, Alat dan Strate­gy/­Standar Operating Prosedur (SOP), untuk menangani area yang terbakar khususnya di area gambut.

Di dalam Peningkatan kapasitas lembaga untuk mempertahankan target ZERO FIRE PT. SHP mem­­bentuk Unit kerja khusus Fire Organization Managemen (FOM) di­internal perusahaan dan Kelompok Masyarakat PeduliApi (KMPA) serta Desa Mak­mur Peduli Api (DMPA) di­lu­ar perusahaan, Pada Kelembagaan ini penulis akan lebih banyak mengulas masalah FOM, ada empat strategi yang dilakukan oleh Tim FOM meliputi :

1.Pencegahan terhadap bahaya Api (Prevention),

2.Persiapan antisipasi bahaya api (Pre­pe­ra­tion)

3.Pendeteksian api sejak dini (Early detection)

4.Respon cepat terhadap terjadinya Ke­bakaran (Rapid Respon).

Secara garis besar strategi pencegahan kebakaran hutan tidak jauh berbeda dengan sebelum se­belumnya, tahun 2021 ini ada peningkatan dan perbaikan pada beberapa bagian demi untuk mencapai “ZERO FIRE & HAZE FREE”.

Fire Organization Managemen (FOM) PT.SHP membuat target pendeteksian untuk hotspot dan fire spot sampai pada luasan 0,1 ha.

Artinya tiap 100 meter persegi di areal kon­sesi harus da­­pat dipantau oleh tim Regu Pemadam kebakaran.

Dan jika terjadi firespot dilokasi areal IUPHHK maka pasukan harus dapat mencapai lo­kasi dalam ku­run waktu selambat-lambatnya 1 jam setelah terdeteksi dan untuk pe­madaman api ha­rus dapat dikontrol atau dipadamkan selambat-lambatnya dalam kurun waktu 4 jam.

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved