Breaking News:

Hutan Tanaman Industri

Praktek Pengelolaan Hutan Tanaman Industri yang Lestari

Pengelolaan lahan gambut sangat membutuhkan pemahaman lokasi dan kawasan serta ke­te­r­ka­itan antar pengguna lahan di kawasan tersebut.

Editor: Salman Rasyidin
SRIPOKU.COM/EVAN HENDRA
Ilustrasi Salah satu lokasi Hutan Industri yang terbakar, Petugas berusaha memadamkan api. 

Perspektif Sosial Budaya

Sebagian masyarakat desa dengan keterbatasan sumber daya sejak beberapa dekade yang lalu melakukan aktifitas ‘tebas, tebang, bakar’,yang merupakan budaya e me­reka untuk mulai bertanam pada lahan yang memang selalu mereka tanami setiap ta­hunnya (Robiyanto ,2017).

Mengembangkan pemikiran dari Prof Robiyanto managemen menerjemahkan bahwa perlu adanya pendekatan yang mengarah bagaimana caranya masyarakat yang berada di sekitar areal IUPHHK-HT PT. SHP tidak melakukan pembukaan areal untuk bertanam dengan sys­tem tebas, tebang dan bakar lagi (Budaya Masyarakat Setempat).

Akan tetapi lebih dengan ca­ra me­kanis untuk menghindari terjadinya kebakaran Lahan yang jika tidak terkendali akan men­jadi kebakaran besar.

Menyambut pemikiran di atas managemen PT. SHP membuat sebuah program yang dinamai dengan SIGAKAR untuk masyarakat yang berdomisili didaerah yang ber­ba­tasan langsung dengan konsesi dimana di kesehariannya mereka membuka lahan per­ta­nian dengan mem­ba­kar maka managemen memberikan program SIGAKAR (Aksi Pencegahan Kebakaran) de­ngan menyumbang Handtractor, Mesin Potong Rumput dan herbisida dengan harapan proses pembukaanlahannya dapat dilakukan secara me­kanik atau pun dengan penggunaan bahan kimia.

B.     Perspektif Ekonomi

Dalam konteks hidup dan penghidupan, yang paling utama tentunya pengelolaan la­han gam­but harus mengedepankan hidup dan kehidupan masyarakat yang ada di wi­layah pedesaan yang rawan terbakar, umumnya masih hidup dibawah garis kese­jah­teraan.

Sebagai contoh, se­ba­gian anggota masyarakat yang melakukan illegal logging ka­rena terdorong oleh kebutuhan untuk dapat bertahan hidup.

Salah satu yang dapat dilakukan untuk kawasan yang ada kegi­at­an perusahaan mungkin saja dengan me­nerapkan konsep“Corporate Sosial Value (CSV)”.

Da­­lam hal ini,intinya adalah ba­gaimana meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan meng­ajari memancing bu­kan dengan hanya memberikan ikannya saja.

Halaman
1234
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved