Breaking News:

Berita Muaraenim

Kisah Penggali Batubara di Muaraenim yang Kedua Anaknya Derita Gizi Buruk Hingga Ada yang Meninggal

"Anak kami yang meninggal kemarin namanya Rico Saputra empat bulan karena gizi buruk dan kebetulan kena penyakit Kayap," ujar Buhanan.

Penulis: Ardani Zuhri | Editor: Refly Permana
sripoku.com/ardani
Seorang balita penderita gizi buruk di Muaraenim. 

Laporan wartawan Sripoku.com, Ardani Zuhri

SRIPOKU.COM, MUARAENIM - Malang sekali nasib pasangan suami istri (Pasutri), Buhanan (36) dan Reni Hartika (32) warga Lampung yang sehari-harinya bekerja sebagai penggali batubara tambang rakyat di Kabupaten Muaraenim ini.

Dua anaknya, yakni Eli Hernita (4) dan Rico Saputra  menderita gizi buruk.

Bahkan Rico Saputra kini sudah meninggal dunia karena derita gizi buruk dimakamkan oleh warga secara gotong royong karena tidak memiliki uang dan tempat tinggal.

Baca juga: MESKI GAGAP Soal Wanita, Azis Lebih Piawai Ketimbang Kiwil: Tua dan Muda Siap Melayani

"Anak kami yang meninggal kemarin namanya Rico Saputra empat bulan karena gizi buruk dan kebetulan kena penyakit Kayap," ujar Buhanan yang menumpang di rumah bekas tetangganya Wasma di Perumahan Bara Lestari II, Desa Keban Agung, Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muaraenim, Rabu (20/1/2021).

Dari pengamatan di lapangan, tampak kondisi tubuh Epi terlihat kurus sehingga terlihat jelas tulang-tulang yang dibalut tipis kulitnya.

Seluruh anggota tubuhnya mulai dari tangan, kaki terlihat mengecil sehingga pertumbuhannya tidak sama dengan anak seusianya pada umumnya.

Epi juga terlihat agak rewel, karena sedang sariawan sehingga untuk mendiamkannya terpaksa harus digendong oleh kedua orangtuanya.

Dituturkan Buhanan sambil menggendong anak semata wayangnya, bahwa anaknya terkena gizi buruk ini sejak umur delapan bulan, dan pernah dirawat di Puskesmas Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, Lampung, dengan rawat inap 10 hari dan rawat jalan enam bulan.

Baca juga: Gara-gara Charge HP di Atas Kasur lalu Meledak saat Ditinggal ke WC, 1 Rumah Terbakar

Selama di Lampung, mereka menjadi petani Kopi dengan mengambil upahan kebun milik orang lain dan tinggal di kebun.

Halaman
123
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved