Breaking News:

Human Interest Story

Cerita Petugas Pemakaman Jenazah Covid di Lubuklinggau, Dijauhi Teman Dianggap Rentan Menularkan

Ia mengaku sejak pertama kali awal pandemi Covid-19 hingga akhir Desember tahun ini tim gabungan sudah memakamkan 50 pasien Covid-19.

Editor: Soegeng Haryadi
TRIBUNSUMSEL.COM/EKO HEPRONIS
Pemakaman yang menggunakan standar protokoler kesehatan. 

SELAIN petugas medis yang berjuang dibarisan terdepan melawan Covid-19, ada juga pihak lain yang tak kalah besar perannya, yakni petugas pengantar dan pengubur pasien Covid-19 yang meninggal dunia ke TPU khusus. Mereka pun sempat dihantui kecemasan tertular virus corona dari jenazah.

Di Kota Lubuklinggau, petugas yang memakamkan pasien Covid-19 adalah pegawai dan staf Dinas Pemadam Kebakaran dan Badan Penanggulangan Bencana (DPKPB). Dalam bertugas, DPKPB secara bergiliran dengan anggota Polres Lubuklinggau dan anggota Kodim 0406 MLM yang telah ditunjuk langsung oleh Satgas Covid-19 Kota Lubuklinggau.

Sejak pandemi Covid-19 melanda kota berjuluk Sebiduk Semare ini, Pemkot Lubuklinggau telah menyiapkan lahan khusus di TPU Lestari, Kecamatan Lubuklinggau Timur II sebagai lokasi pemakaman khusus jenazah Covid-19.

Baca juga: Cerita Petugas Pemakaman Covid-19 di Lubuklinggau, Pulang Ke Rumah Langsung Mandi Air Panas

Mahali yang merupakan Kasi Ops DPKPB Kota Lubuklinggau merupakan salah seorang yang terlibat. Ia mengaku sejak pertama kali awal pandemi Covid-19 hingga akhir Desember tahun ini tim gabungan sudah memakamkan 50 pasien Covid-19.

Angka kematian kasus Covid-19 di Kota Lubuklinggau disebut merupakan kasus kematian terbesar kedua di Provinsi Sumatera Selatan setelah Kota Palembang.

"Jumlahnya yang sudah kami makamkan melalui protokol kesehatan (Prokes) Covid-19 sudah 50 lebih," kata Mahali, Senin (28/12).

Mahali bercerita ketika awal-awal memakamkan pasien Covid-19 ia bersama rekan-rekannya sempat was-was. Bahkan, setiap kali selesai dan pulang ke rumah sehabis memakamkan pasien Covid-19 tidak berani masuk ke dalam rumah sebelum mandi dengan air panas.

Baca juga: Wali Kota Lubuklinggau : Saya Bukan Prioritas dan tak Perlu Diberi Vaksin Covid-19

"Dulu waktu awal-awal takut, sampai 10 pasien (dimakamkan). Setiap selesai memakamkan pasien Covid saya selalu minta dengan istri dimasakkan air panas untuk mandi dan merendam pakaian," ujarnya.

Setelah mandi dan merendam pakaian ia baru berani bertemu dengan anak dan istrinya. Maklumnya waktu itu kasus Covid-19 di Kota Lubuklinggau sedang tinggi-tingginya.

Mahali bercerita, bersama tim gabungan ia pernah memakamkan tiga jenazah pasien Covid-19 di lokasi yang sama.

"Dulu pernah sehari 3 kali kita makamkan, saat itu Covid-19 begitu menakutkan, belum ada obatnya, ditambah kita (petugas) agak dijauhi oleh teman-teman karena dianggap walau tidak tertular tapi rentan menularkan," ungkapnya.

Baca juga: Pengujung Masuk Lubuklinggau Dilakukan Rapid Test Secara Acak

Namun rasa takut dan khawatir itu lama kelamaan perlahan sirna. Saat ini ia bersama rekannya dalam tim masih menerapkan protokol kesehatan, hanya saja tidak seketat awal pandemi Covid-19.

"Sekarang protokol kesehatan tetap memakai APD lengkap, sehabis pemakaman selalu mandi, dan APD sebelum dibuang disemprot dulu pakai disinfektan. Bedanya degan dahulu sehabis memakamkan mandi dengan air panas sekarang tidak lagi," ujarnya.

Bahkan ia mengaku saat ini merasa senang menjalani aktivitas tersebut dengan tulus. Karena menurutnya pekerjaan tersebut sebagai ladang ibadah dan sebagai upaya membantu sesama.

"Kalau capek sudah pasti tapi kami menjalaninya dengan ikhlas, karena sudah tugas dan kewajiban kami sebagai petugas yang ditunjuk oleh Satgas," ungkapnya. (eko hepronis)

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved