Breaking News:

Tantangan Masalah Perbankan Tahun 2021

Di tengah potensi berlanjutnya penurunan pendapatan bunga, meningkatnya prosentase Biaya Ope­­rasional dibanding Pendapatan Operasional (BOPO).

Editor: Salman Rasyidin
ist
Fajar S Pramono 

Pengemban Misi

Terkait penjagaan kualitas aset (pinjaman), bukanlah hal baru jika perbankan harus benar-benar mengeluarkan segala jurus demi penghematan pembentukan CKPN-nya.

Seperti kita tahu, bahwa pembentukan cadangan kerugian merupakan hal wajib yang harus dilakukan oleh lembaga perbankan.

Semakin tinggi risiko kreditnya, juga semakin dekat kondisi kredit dengan potensi menunggaknya, maka pencadangan kerugian yang dibentuk mutlak lebih besar.

Dan secara otomatis akan mereduksi pengakuan akuntansi terhadap laba bank itu sendiri.

Lantas, apa yang bisa diharapkan jika sebuah bisnis besar sudah minim laba?

Tentu sebuah ending yang tidak diharapkan (baca : kebangkrutan).

Dan seperti yang telah beberapa kali diulas, penjagaan kualitas aset ini menjadi jauh lebih tidak mudah, karena kondisi pandemi telah menciptakan pembatasan gerak, di luar dampak yang sudah jelas negatif bagi berbagai sektor produksi, jasa dan perdagangan.

Meskipun tentu saja sebagaimana ada malam dan siang, ada gelap dan terang, tetap saja ada sektor-sektor usaha yang “diuntungkan” dan justru berkembang dengan kondisi ini.

Contoh : sektor farmasi, produk herbal dan kesehatan, transportasi barang (ekspedisi), e-commerce, makanan sehat (healthy food) dan makanan olahan beku (frozen food).

Konsentrasi bank dalam ekspansi kredit yang sehat dan penjagaan kualitas aset ini menemukan tantangan pendamping yang tak kalah penting untuk dilaksanakan.

Yakni : banyaknya penugasan oleh pemerintah untuk membantu penyaluran berbagai bantuan terkait program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), khususnya kepada bank-bank pemerintah.

Seperti Banpres Produktif untuk Usaha Mikro (BPUM) alias Bantuan Langsung Tunai (BLT) UMKM, Bantuan Subsidi Gaji (BSU), Bansos Tunai, dan sejenisnya.

Di satu sisi, pengembanan misi pemerintah ini seolah mengganggu pergerakan dan memberikan pekerjaan ekstra bagi lembaga perbankan.

Apalagi di lapangan, berbagai kritik, komplain, kerancuan data penyaluran, verifikasi data penerima dan sebagainya tak jarang muncul dari berbagai lapisan masyarakat dan juga lembaga monitoring.

Terasa “mengganggu”, namun sejatinya di situlah “hikmah” tersembunyi bagi dunia perbankan yang sedang berharap banyak akan adanya akuisisi nasabah dan aliran dana masuk dalam bentuk dana murah (tabungan).

Dana murah ini semakin menjadi segmen primadona perbankan, karena di tengah kondisi ekonomi yang belum new normal sepenuhnya, bank pun harus berhemat Cost of Fund (COF) alias biaya dana untuk optimalisasi labanya.

Maka, bank dan insan perbankan 2021 juga harus benar-benar piawai mengatur waktu dan mengalokasikan SDM-nya untuk mensinergikan kemuliaan tugas dari pemerintah ini dengan pemastian kelangsungan bisnis dari aspek teknis dan arsitektur perbankan itu sendiri.

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved