Breaking News:

Pemberdayaan Ekonomi

Pandemi, Civil Society dan Pemberdayaan Ekonomi Melalui Masjid

Masyarakat yang terdampak Covid-19, mengalami penurunan kualitas kehidupan dan ter­degradasi secara ekonomi.

Pandemi, Civil Society dan Pemberdayaan Ekonomi Melalui Masjid
ist
M RUSYDI

Jika selama ini dana kas masjid digunakan le­bih banyak untuk pemeliharaan masjid dan bersifat konsumtif, pada periode ter­a­khir banyak ususlan paradigma pengelolaan keuangan masjid menjadi lebih pro­duk­tif.

Pembentukan Lembaga Keuangan Masjid

Untuk mewujudkan hal tersebut, masjid dapat membentuk suatu lembaga keuangan yang memiliki unsur-unsur seperti struktur, manajemen,  fungsi, hak dan kewajiban ter­kait pengelolaan keuangan masjid sebagai sentral kegiatan keagamaan umat Islam.

Se­jauh ini lembaga keuangan masjid yang representatif, antara lain dalam wujud Ko­perasi atau BMT yang harus dikelola secara professional, dengan melakukan penge­lolan atau pemberdayaan keuangan masjid dengan didasarkan pada sumber pema­su­kannya.

Dalam hal ini pengelolaan keuangan masjid bisa jadi bersifat konsumtif, atau habis pakai, namun sangat mungkin bersifat produktif, atau mengembangkan nilai ekonomi masyarakat.

Sumber pemasukan masjid umumnya bersumber dari Zakat, infaq, shadaqah, dan wa­kaf.

Oleh karena banyak macam sumber pemasukannya, administrasi pengelolaan ke­u­angan masjid harus menyediakan kolom pos pemasukan keuangan minimal empat sum­ber pemasukan tersebut.

Sehingga jelas formulasi pemberdayaannya, pada sum­ber zakat sudah jelas rincian mustahiqnya yakni terdapat delapan ashnaf.

Oleh karena itu untuk dana zakat harus disalurkan terhadap 8 ashnaf yang tergolong mustahiq sesuai tuntunan QS. At-Taubah ayat 60

Adapun keuangan masjid yang berasal dari pos infaq dan shadaqah, pengurus dapat leluasa penggunaannya termasuk dapat digunakan untuk program-program pem­ber­da­yaan ekonomi.

Selain untuk membiayai operasional masjid secara langsung, sangat mungkin jika diinvestasikan amal usaha masjid agar kebutuhan operasional masjid yang cenderung meningkat seluruhnya tercukupi.

Sementara sumber dana dari wakaf harus sesuai dengan tujuan wakaf yang diinginkan oleh Muwakif.

Terkait wakaf ini, su­dah berkembang wacana wakaf produktif, sehingga tidak menutup kemungkinan Muwakif mewakafkan dananya untuk tujuan wakaf produktif yang bisa digunakan un­tuk memberdayakan ekonomi umat

Kas Masjid, Wakaf Tunai, dan Koperasi Masjid dapat disinergikan dan selama di­ke­lola berdasarkan Prinsip–prinsip Fiqih Muamalah dapat menjadi Wahana Pember­da­yaan Keuangan Masjid untuk kepentingan Operasional Masjid.

Sekaligus itu akan dapat me­ningkatkan fungsi Masjid bukan hanya sebagai pusat Ibadah dan dakwah namun juga se­bagai pusat pemberdayaan ekonomi Umat.

Dengan pengelolaan yang baik, maka perintah memakmurkan masjid dapat ter­lak­sana.

Sumber pemasukan masjid yang bukan hanya bersifat konsumtif (habis pakai), dengan diinvestasikan melalui amal usaha akan mampu mendulang kecukupan biaya operasional masjid seperti biaya marbot, listrik, perawatan, alat tulis dan kebutuhan rutin lainnya, disamping membantu perekonomian umat.

Dengan mendasarkan peng­operasionalannya pada prinsip-prinsip ajaran Islam yang mempunyai concern ter­ha­dap pemberdayaan ekonomi rakyat yang termiskinkan. Sebenarnya telah muncul ins­titusi sosial ekonomi yang merupakan representasi wacana civil society berbasis Islam, yang dapat memberi solusi dalam penanggulangan akibat pandemi Covid 19 dalam pemulihan ekonomi.

Editor: Salman Rasyidin
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved