Breaking News:

Tersangka Kerumunan

Diperiksa 24 Jam Sebagai Tersangka, Ketua Umum dan Panglima FPI Tidak Ditahan

Dua petinggi organisasi Islam FPI menjalani pemeriksaan lebih dari 24 jam, usau diperiksa mereka tidak ditahan.

Editor: Sutrisman Dinah
Tribunnews/Irwan Rismawan/Chaerul Umam
Sobri Lubis (kiri)-Rizieq Shihab (kanan). Inilah sosok keenam tersangka kasus kerumunan massa di Petamburan yang telah ditetapkan polisi. Yaitu Rizieq Shihab, Haris Ubaidillah, Ali bin Alwi Alatas, Maman Suryadi, Sobri Lubis, dan Habib Idrus. 

SRIPOKU.COM --- Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI), Ahmad Shabri Lubis dan Panglima Laskar Islam Maman Suryadi, baru selesai menjalani pemeriksaan selama  24 jam. Mereka adalah dua dari enam tersangka, termasuk Muhammad Rizieq Shihab alias Habib Rizieq, dalam kasus kerumunan di Petamburan, Jakarta Pusat, 14 November lalu.

Shabri Lubis diperiksa sebagai tersangka mengaku diperlakukan dengan baik. Namun ia tetap meminta aparat kepolisian tidak diskriminatif, dan menindak setiap kerumunan yang terjadi.

Di hadapan wartawan yang menemui usai diperiksa, Shabri Lubis meminta keadilan kepada pihak kepolisian agar memproses dan mengusut kasus kerumunan yang juga terjadi.

Baca juga: Habib Rizieq Menolak Diperiksa Polda Jabar, Kasus Kerumunan di Megamendung dan RS Ummi

Baca juga: Jawab Keraguan Masyarakat soal Hasil Rekonstruksi Kematian 6 Laskar FPI, Kabareskrim : Belum Final

Dalam kesempatan ini, ia menyinggung wartawan yang juga kerap berkerumun.  "Tinggal saat sekarang ini kalau saya sudah diproses secara hukum atas pasal kerumunan, maka kami minta keadilan di sini," kata Sobri, di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (15/12/2020) siang.

Pemimpin sebuah pondok pesantren di Lebak (Banten) ini, diperiksa selaku penanggung jawab acara pernikahan puteri pemimpin FPI Habib Rizieq (55). Bersamaan dengan acara pernikahan itu, keluarga Habib Rizieq menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi dan mengumumkan undangan secara terbuka.

Acara yang berlangsung di Jl KS Tubun, Tanah Abang, itu dihadiri ribuan orang yang berlangsung di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) masa pandemi virus corona, di wilayah Ibukota Jakarta. Dalam situasi PSBB seharusnya diterapkan protokol kesehatan. 

"Yang lain juga yang berkerumun, termasuk wartawan yang berkerumun sekarang harus diproses juga biar adil ya," imbuhnya. 

Selain itu, Shabri meminta agar hukum tak pandang bulu. Sehingga hanya ditegakkan kepada kalangan atau golongan tertentu saja. 

Menurutnya, hal tersebut adalah ketidakadilan. Dan keadilan baginya adalah sumber kelemahan negara. 

"Termasuk juga tanpa pandang bulu, hukum harus berlaku untuk semua. Bukan hanya untuk kalangan tertentu, golongan tertentu," kata dia. 

Halaman
12
Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved