Breaking News:

Ujian Nasional

Sekolah Negeri Bukan Hanya untuk Orang Kaya dan Mampu, Ini Kata Menteri Nadiem Makarim

Menteri Pendidikan Nadiem Makarim menilai, ada kecenderungan sekolah negeri dan favorit cenderung menjadi "jatah" anak yang bernilai tinggi.

Editor: Sutrisman Dinah
tribunnews.com
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim 

"Ini adalah kesalahan yang ada sebelumnya, yang kita koreksi.Bagaimana bisa kita mengambil tes dua tiga jam tiba-tiba masa depan dia bergantung pada tes itu, itu tidak fair, tidak adil," kata Nadiem Makarim.

Nadiem menceritakan, saat penilaian Programme for International Student Assessment (PISA) keluar, Indonesia mendapat ranking rendah di bidang pendidikan. Hal ini sempat menjadi animo krisis pembelajaran di Tanah Air."Makanya kita melakukan reformasi (pendidikan) secara cepat," kata Nadiem.

Reformasi pendidikan di sini dimaksudkan mengganti UN dengan AKM, Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar. Ranking rendah Indonesia di bidang pendidikan disebabkan perbandingan antara sekolah swasta dan sekolah negeri di tingkat SMP dan SMA yang sangat mencolok.

Mayoritas anak-anak dengan tingkat ekonomi yang lebih tinggi justru bersekolah di sekolah negeri. Sementara anak-anak dengan tingkat ekonomi lebih rendah justru ada di sekolah swasta.

Nadiem mengatakan, temuan PISA soal perbandingan sekolah swasta dan sekolah negeri ini menjadi penanda gagalnya Pemerintah dalam memberikan kesetaraan di bidang pendidikan. Penyebabnya tak lain adalah sistem assesmen nasional yang masih menggunakan Ujian Nasional (UN).

"Semua yang tingkat ekonominya tinggi itu justru ada di sekolah negeri, semua yang ekonominya lebih rendah itu ada di sekolah swasta," ujar Nadiem.

"Kenapa di sekolah negeri banyak yang dari tingkat ekonominya lebih tinggi? itu karena UN. Karena semua anak-anak yang nilai UN-nya lebih tinggi itu bisa masuk sekolah negeri," sambung Eks Bos Gojek itu.

Nadiem menyebut para peserta didik yang memperoleh nilai UN tinggi kebanyakan berasal dari keluarga mampu. Orang tua daripada anak-anak itu secara finansial mampu memberikan program bimbingan belajar (bimbel).

"Anak-anak yang bisa dapat UN tinggi itu anak-anak yang orang tuanya mampu mengikutkan bimbel bagi anaknya untuk dapat nilai UN yang lebih tinggi," ucap Nadiem.

Sementara yang tidak punya uang untuk mengikuti program bimbel, kebanyakan gagal masuk sekolah negeri. Mereka adalah para peserta didik yang berasal dari keluarga dengan perekonomian lebih rendah.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved