Ujian Nasional

Sekolah Negeri Bukan Hanya untuk Orang Kaya dan Mampu, Ini Kata Menteri Nadiem Makarim

Menteri Pendidikan Nadiem Makarim menilai, ada kecenderungan sekolah negeri dan favorit cenderung menjadi "jatah" anak yang bernilai tinggi.

Editor: Sutrisman Dinah
tribunnews.com
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim 

SRIPOKU.COM --- Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan resmi menggantikan Ujian Nasional (UN) dengan Assesmen Nasional. Kebijakan ini mulai berlaku akhir semester genap tahun mendatang.

Dalam penerrapannya, Assesmen Nasional ini terdiri dari tiga bagian yaitu Assesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter dan Survei Lingkungan Belajar.

Yang akan diujikan kepada peserta didik di tingkat sekolah menengah atas (SMA) melalui sistem AKM adalah materi numerasi dan literasi.

Pada sistem Survei Karakter, yang ditekankan kepada peserta didik yaitu nilai-nilai Pancasila, kecintaan terhadap keberagaman dan toleransi umat beragama dan berbudaya.

Baca juga: BREAKING NEWS: Presiden Jokowi Resmi Batalkan Ujian Nasional 2020

Baca juga: Selamat Tinggal Ujian Nasional dan Selamat Datang Asesmen Nasional Tahun 2021, Ortu Tak Usah Cemas

Penilaian sistem Survei Lingkungan Belajar, terletak pada kondisi belajar mengajar tatap muka antara peserta didik dan guru. Apakah para peserta didik memperoleh kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan diri? Itu yang dinilai.

Sistem Assesmen Nasional ini akan berlaku mulai tahun 2021. Peniadaan UN menjadi penanda perubahan paradigma evaluasi pendidikan dan peningkatan sistem evaluasi pendidikan.

"Meniadakan UN salah satu perubahan fundamental dari sistem pendidikan kita. Ini pertamakali lakukan," ucap Menteri Pendidikan Nadiem Anwar Makarim saat berbincang dengan Aktor Ikbal Ramadan di Live Instagram, Jumat (11/12).

Dengan menghapus UN, Nadiem berupaya menghadirkan suatu sistem assesmen nasional yang tidak digunakan untuk mengukur potensi individu peserta didik.

UN yang sebelumnya mengukur potensi peserta didik atau bahkan menentukan nasibnya, dinilai Nadiem sebagai sebuah kesalahan.

Sistem assesmen nasional, menurut Nadiem, harusnya dilakukan untuk mengukur kualitas daripada sistem pendidikan, yaitu kualitas sekolahnya.

"Ini adalah kesalahan yang ada sebelumnya, yang kita koreksi.Bagaimana bisa kita mengambil tes dua tiga jam tiba-tiba masa depan dia bergantung pada tes itu, itu tidak fair, tidak adil," kata Nadiem Makarim.

Nadiem menceritakan, saat penilaian Programme for International Student Assessment (PISA) keluar, Indonesia mendapat ranking rendah di bidang pendidikan. Hal ini sempat menjadi animo krisis pembelajaran di Tanah Air."Makanya kita melakukan reformasi (pendidikan) secara cepat," kata Nadiem.

Reformasi pendidikan di sini dimaksudkan mengganti UN dengan AKM, Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar. Ranking rendah Indonesia di bidang pendidikan disebabkan perbandingan antara sekolah swasta dan sekolah negeri di tingkat SMP dan SMA yang sangat mencolok.

Mayoritas anak-anak dengan tingkat ekonomi yang lebih tinggi justru bersekolah di sekolah negeri. Sementara anak-anak dengan tingkat ekonomi lebih rendah justru ada di sekolah swasta.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved