Breaking News:

Human Interest Story

Cerita Polwan Polda Sumsel Tugas di Afrika Tengah, Azan Hentikan Kontak Senjata

Jika sudah terjadi kontak senjata demikian, tim dari PBB hanya bisa menunggu hingga kontak senjata berhenti.

ISTIMEWA
Briptu Libna Shabrina, Polwan dari Polda Sumsel disambut anak-anak di Afrika Tengah ketika menjalankan tugas sebagai tim pengamanan PBB di wilayah konflik. 

BRIPTU Libna Shabrina dalam menjalankan tugasnya sebagai tim pengamanan PBB, menyaksikan langsung kontak senjata antara dua kelompok. Di depan mata, terlihat jelas bagaimana antara kelompok di Afrika Tengah menggunakan senjata laras panjang dan saling tembak.

Menurut Briptu Libna, jika sudah terjadi kontak senjata demikian, tim dari PBB hanya bisa menunggu hingga kontak senjata berhenti. Setelah itu baru mereka masuk ke lokasi.

"Bedanya di sana, kontak senjata itu sesama milisi. Jadi kontak senjata itu antar kelompok, bukan sama tim pengamanan PBB. Bila kami datang, kelompok tertentu kadang datang menemui kami. Mereka berkata, bila sangat senang dan tenang bila sudah datang pasukan dari Indonesia. Meski selalu memegang senjata, mereka di sana itu sangat takut dengan polisi atau tentara. Termasuk tentara atau polisi mereka sendiri," katanya.

Baca juga: Cerita Polwan Polda Sumsel Tugas di Afrika Tengah, 3 Bulan Tidur di Tenda, Kepanasan dan Kedinginan

Tak jarang sampai banyak yang menjadi korban dalam kontak senjata tersebut. Pada situasi demikian, Libna mengatakan timnya hanya bisa menunggu perintah dari pimpinan pasukan PBB.

Nantinya, setelah berhenti kontak senjata baru mereka masuk ke lokasi untuk mengevakuasi warga di sana.

"Uniknya, di sana bila mereka sedang kontak senjata dan azan berkumandang. Kontak senjata itu langsung berhenti, ketika itulah kami masuk untuk mengevakuasi warga. Pastinya, setelah ada perintah pimpinan PBB," ujarnya.

Yang sangat mengejutkan bagi Briptu Libna, warga Afrika Tengah sudah biasa membawa senjata. Setiap rumah pasti menyimpan senjata baik laras pendek maupun laras panjang.

Namun dari ungkapan warga, senjata yang mereka miliki hanya untuk berjaga-jaga lantaran wilayah yang rawan konflik.

Yang lebih unik, senjata digunakan untuk membangunkan orang salat Subuh, termasuk juga untuk pernikahan atau hajatan.

"Pertama kali datang ke sana sempat kaget. Subuh-subuh terdengar suara tembakan berkali-kali. Ketika semuanya tim keluar, ternyata senjata itu ditembakan ke udara untuk membangunkan orang salat. Setelah itu baru ada seseorang yang mengumandangkan azan," katanya.

Meski setiap rumah menyimpan senjata api dan bepergian membawa senjata api, hampir 80 persen anak-anak di sana takut dengan senjata api.

Hal demikian membuat pasukan yang datang ke wilayah tersebut harus melepaskan senjata. Itu selalu dipatuhi, agar tidak membuat anak-anak ketakutan.

"Warga di sana selalu bilang, kalau datang pasukan Indonesia mereka sangat senang. Terlebih, pasukan Indonesia selalu membantu warga di sana menyiapkan air setiap minggunya 10 ton air. Mereka juga bilang, kalau pasukan Indonesia sangat ramah-ramah dan tidak kasar," katanya. (ardiansyah)

Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved