Breaking News:

Human Interest Story

Cerita Polwan Polda Sumsel Tugas di Afrika Tengah, 3 Bulan Tidur di Tenda, Kepanasan dan Kedinginan

Saat bertugas, Briptu Libna masuk di tim taktis patroli di dua distrik yang ada di kota Afrika Tengah.

ISTIMEWA
Briptu Libna Shabrina, Polwan Polda Sumsel saat bertugas sebagai pasukan PBB di Afrika Tengah saat bersama anak-anak di wilayah Afrika. 

BERTUGAS 14 bulan di Afrika Tengah bergabung dengan pasukan PBB menjadi pengalaman istimewa Briptu Libna Shabrina yang saat ini bertugas di Ditreskrimum Polda Sumsel. Ia sempat menyaksikan bagaimana kontak senjata dua milisi bersenjata setempat terjadi. Berikut penuturan kepada wartawan Sripo - Tribun Sumsel.

Briptu Libna mengatakan, ia harus mengikuti proses yang panjang untuk bisa bergabung dalam pasukan PBB. Ia memulai dari tes di Polda Sumsel kemudian dilanjutkan di Mabes Polri.

Dari serangkaian tes, ternyata dirinya menjadi satu-satunya Polwan dari Sumsel yang lulus dan kemudian bergabung bersama 13 Polwan lainnya dalam tim pengamanan PBB.

"Karena baru pertama kali, jadi rasa cemas sempat muncul. Terlebih, itu negara konflik yang setiap saat kontak senjata. Tetapi, saya merasa lega. Karena tim kami kompak untuk sesama melindungi," kata perempuan kelahiran Palembang, 19 Februari 1994 saat ditemui di Polda Sumsel, Jumat (4/12).

Saat bertugas, Briptu Libna masuk di tim taktis patroli di dua distrik yang ada di kota Afrika Tengah. Patroli dilakukan selama 8 jam sehari dan dilakukan selama seminggu penuh.

Selain bersama tim sendiri, patroli juga sering dilakukan bersama dengan tim dari negara lain di bawah penugasan PBB. Ketika patroli, mereka keliling di dua distrik dengan senjata lengkap dan singgah di dua pos.

"Pos 1, letaknya di pinggir jadi lebih terbuka lokasinya. Sedangkan, Pos 2 di dekat rumah warga yang lokasinya hanya ada akses jalan kecil. Di sini, bila sudah ada kontak senjata pasti tidak bisa keluar," ceritanya.

Ketika singgah di pos itulah, biasanya banyak warga di sana datang.

Tak hanya warga, anak-anak juga berkumpul. Bila warga, biasanya datang meminta makanan atau air minum kepada tim yang singgah. Sedangkan anak-anak biasanya meminta diajari sekolah.

Karena, anak-anak di sana jarang bersekolah lantaran guru di sana hanya datang satu bulan sekali. Warga setempat biasa berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris atau Prancis.

Halaman
12
Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved