Kejahatan Perang

13 Anggota Pasukan Elite Australia Dipecat, Bunuh 39 Warga Sipil di Afghanistan

Pemimpin militer Autralia memecat 13 anggota pasukan khususnya, setelah dilaporkan melakukan kejahatan perang, membunuh 39 warga sipil Afghanistan.

Editor: Sutrisman Dinah
kompas.com
Guard of Honor yang dibentuk di Markas Militer Australia di Canberra pada Kamis (19/11) sebelum temuan dari Inspektur Jenderal tentang penyelidikan kejahatan perang tentara Australia di Afghanistan terungkap. 

SRIPOKU.COM --- Militer Australia membebastugaskan 13 pasukan elitenya karena melakukan kejahatan perang. Ke-13 anggota pasukan dengan kualifikasi khusus ini dilaporkan membunuh puluhan warga sipil.

Mengutip Panglima Angkatan Darat Australia, Rick Burr, mengatakan bahwa personel itu tentara itu telah mendapatkan "peringatan tindakan administratif" dan segera dipecat.

Burr mengatakan militer akan membawa pelaku bertanggung jawab atas pelanggaran yang dilakukannya ke peradilan militer.

Burr merekomendasikan 19 eks-pasukan elite Australia itu dirujuk ke Kepolisian Federal Australia dan pemberian kompensasi kepada keluarga korban.

Pasca-serangan “pesawat bunuh diri” 11 September 2001 di Amerika Serikat, lebih dari 26 ribu personel Australia dikerahkan ke Afghanistan untuk membantu AS dan sekutu melawan kelompok teroris Al-Qaeda, Taliban, dan kelompok lainnya.

Pasukan Australia resmi meninggalkan wilayah perang Afghanistan pada akhir 2013 lalu. Namun, sejak itu, serangkaian laporan kekerasan brutal yang dilakukan pasukan elite Australia kerap muncul di Afghanistan.

Laporan serangan brutal tersebut termasuk kematian bocah berusia enam tahun dalam sebuah penggerebekan yang dilakukan tentara Australia, sampai seorang tahanan yang ditembak mati demi menghemat ruang di dalam helikopter.

Berdasarkan hasil penyelidikan selama bertahun-tahun, militer Australia menyatakan bahwa pasukan khusus elite Australia "secara ilegal" membunuh 39 warga sipil dan tahanan di Afghanistan.

Laporan penyelidikan atas kejahatan perang di Afghnaistan setebal 465 halaman itu, mengungkapkan tentara junior yang dituduh melakukan blooding' mengaku diminta melancarkan serangan terhadap warga sipil.

Menanggapi hasil penyelidikan, Kepala Angkatan Pertahanan Australia, Jenderal Angus Campbell, menganggap peristiwa ini sebagai catatan memalukan bagi militer Australia. Ia menyatakan permintaan maaf  secara terbuka kepada rakyat Afghanistan yang hingga kini menderita akibat perang berkepanjangan.

Pekan lalu, hasil penyelidikan selama bertahun-tahun melaporkan bahwa pasukan khusus elite Australia itu, menyimpulkan bahwa pasukan Australia bertindak di luar hukum.

Laporan itu menyarankan, Australia bukan sekadar meminta maaf tetapi jugamembayar kompensasi kepada ke keluarga korban, dan reformasi di tubuh militer Australia.

Burr mengatakan, proses hukum sekarang harus dihormati karena militer berupaya membawa mereka yang bertanggung jawab atas pelanggaran itu ke pengadilan.

"Kami semua berkomitmen untuk belajar dari penyelidikan dan kembali dengan lebih kuat dari ini, lebih cakap, dan efektif," katanya dikutip Kompas.com dari AFP.

"Setiap masalah dan keadaan individu akan dipertimbangkan berdasarkan kasus per kasus," kata Burr.****

____________________________

Sumber: Kompas.com, https://www.kompas.com/global/read/2020/11/27/150001570/muncul-laporan-kejahatan-perang-di-afghanistan-australia-bekukan-13

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved