Breaking News:

Dinyatakan Negatif Covid-19, Muzakir Sai Sohar Dijebloskan ke Rutan Pakjo, Silakan Tanya Pengacara

Muzakir menjalani pemeriksaan di ruang penyidik Pidsus Kejati Sumsel lebih kurang selama 5 jam.

SRIPOKU.COM / Chairul Nisyah
Mantan Bupati Muara Enim Muzakir Sai Sohar, jalani pemerikasaan di Kejati Sumsel, Senin (23,/11/2020). 

PALEMBANG, SRIPO -- Mantan Bupati Muaraenim, Muzakir Sai Sohar dijebloskan ke Rutan Pakjo Palembang, Senin (23/11). Ia diduga menerima suap alih fungsi lahan.

Sebelumnya Muzakir yang menjabat bupati periode 2014-2018 ini berstatus tahanan kota. Status tahanan kota disandangnya setelah hasil rapid test beberapa waktu lalu reaktif.

"Tapi sekarang tersangka sudah resmi jadi tahanan rutan karena berdasarkan hasil swab yang dilakukan, dia menunjukan hasil negatif Covid-19," ujar Asisten Bidang Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Sumsel, Zet Tadung Allo saat ditemui di gedung kejati Sumsel setelah proses pemeriksaan tersangka Muzakir Sai Sohar.

Baca juga: Muzakir Bantah Terima Uang Suap Rp 5,8 M, Fee Alih Fungsi Lahan di Muaraenim dari PT Mitra Ogan

Muzakir menjalani pemeriksaan di ruang penyidik Pidsus Kejati Sumsel lebih kurang selama 5 jam. Ia baru keluar dari gedung Kejati pada pukul 16.20 WIB.

Dengan tangan diborgol dan menggunakan rompi tahanan tipikor, Muzakir yang tetap menggunakan masker lebih memilih irit bicara saat digiring dari gedung kejaksaan ke mobil tahanan.

Ia juga enggan menanggapi pertanyaan awak media yang telah lama menunggunya.

"Silakan tanya ke pengacara saya," ujarnya seraya menunduk dan terus berjalan meninggalkan gedung pengadilan.

Baca juga: Kronologi Mantan Bupati Muaraenim Muzakir Sai Sohar Jadi Tersangka Kasus Korupsi Alih Fungsi Lahan

Sementara Kejati Sumsel melalui Aspidsus Kejati Sumsel, Zet Tadung Allo, SH MH di Gedung Kejati Sumsel menyatakan, Muzakir Sai Sohar diduga menerima uang sebesar 400.000 Dollar AS atau sebesar Rp 5,8 miliar dari PT Mitra Ogan. Uang tersebut terkait pengurusan perubahan fungsi kawasan hutan produksi konversi menjadi kawasan hutan tetap.

"Uang tersebut sebelumnya merupakan uang dalam bentuk rupiah senilai Rp 5,8 miliar lebih dan kemudian sengaja ditukarkan dalam bentuk mata uang asing," ujarnya.

Zet menambahkan, tidak menutup kemungkinan akan adanya tersangka baru dalam perkara ini. Sebab dalam proses alih fungsi hutan maupun lahan, pasti banyak melihat perorangan maupun instansi terkait.

Halaman
123
Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved