Breaking News:

Sifat Adat Minangkabau

Albar S Subari : “Sifat Adat Minangkabau Tetap dan Berubah”

Ketua Pembina Adat Sumsel Albar S Subari SH.MH beberapa waktu belakangan dalam tulisannya banyak menukil masalah adat dan budaya Minangkabau.

Albar S Subari : “Sifat Adat Minangkabau Tetap dan Berubah”
ist
Ketua Pembina Adat Sumsel Albar S Subari  SH.MH

Albar S Subari ; “Sifat Adat Minangkabau Tetap dan Berubah

SRIPOKU.COM – Ketua Pembina Adat Sumsel Albar S Subari  SH.MH beberapa waktu belakangan dalam tulisannya banyak menukil masalah adat dan budaya Minangkabau.

Makna tersirat di balik itu bisa jadi sebagai “Studi perbandingan” antar dua budaya Melayu yang ada di Sumatera.

Seperti diketahui  antara Adat Budaya Sumsel dan Minangkabau punya  historis yang tidak bisa diambaikan begitu saja.

Kali ini Albar S Subari  SH.MH mengedepakan masalah  Sifat Adat Minangkabau Tetap dan Berubah seperti yang diungkap pada SRIPOKU.COM awal pekan ini.

Sifat yang dipunyai adat Minangkabau mempunyai sifat tetap dan berubah.

Ini merupakan salah satu dasar ketentuan dalam alam yang nyata juga ( alam terkembang menjadi guru).

Di dalam alam, umpama, sebangsa tumbuh tumbuhan telah ada dalam biji tampangnya (lembaga).

Biji tumbuh menjadi pohon, pohon akan mati, tetapi meninggalkan biji atau anak pula untuk menjadi tumbuh pohon selanjutnya.

Demikian sebagai suatu bangsa pohon, tumbuh tumbuhan yang sama tetap ada, sungguh pun adanya dalam tingkatan yang berbeda dan mengalami proses perubahan.

Umpamanya sebatang kelapa atau mangga yang telah berbuah lama kelamaan tentu akan mati, tetapi dari buahnya yang telah ada akan ada lagi kelapa dan mangga sambung menyambung.

Ini adalah perubahan yang melalui beberapa proses tetapi  tetap dalam bangsa dan nama semula.

Walau telah melalui tingkat perubahan yang keadaan perubahannya itu tetap, nama dan rasanya tetap sama semula.

Untuk jelasnya kita turunkan makna philosofinya dalam pergaulan sehari hari pada masyarakat adat Minang:

Kalau dibalun sabalun kuku

Kalau dikambang saleba alam

Walau sagadang bijo labu

Bumi jo langit ado di dalam

Artinya : Kalau dikumpulkan sekecil kuku, jika dikembangkan selebar alam walau sebesar biji labu, bumi dan langit ada di dalam).

Adat Minangkabau itu mempunyai ketentuan tersendiri pula, seperti fatwa adat: Yg dalam bahasa Indonesia nya

Kulit mair ditimpa batin, batin ditimpa gala-gala. Dalam lahir ada berbatin, dalam berbatin berhakekat pula.

Perubahan yang silih berganti tetapi sifatnya tetap itulah yang dimaksud oleh pepatah

Rama rama di kumbang Jati, katik endak pulang berkuda, Patah tumbuh hilang berganti,. Pusaka lama begitu juga.

Sudah bergaris jejak si pasin, burung baikkik berjejakpula,habis tahun berganti musim, sandi adat jangan berubah.

Sekali aia gadang

Sekali tepian beranjak

Sekali musim batuka

Sekali caro baganti

Nan adat berubah tidak.

Simpul bahwa " Adat nan babuhua mati, tidak akan mengalami perubahan, namun adat nan babuhun sentak akan selalu mengalami perubahan sesuai dengan situasi dan kondisi yang dilalui.

Ketentuan adat mengatakan

Adat dipakai baru

Kain dipakai usang

Dapuak lapuak dikajangi

Urang urang dibarui.

Terima kasih.

Penulis: Salman Rasyidin
Editor: Salman Rasyidin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved