Breaking News:

Membaca Habib Rizieq dalam Perspektif Kultur Politik Jawa

Blak-blakan saja, salah satu misi saya menulis tentang Habib Rizieq Shihab (HRS) ini untuk numpang beken. Nggandul popularitas.

IST
Anwar Hudijono, wartawan senior tinggal di Sidoarjo 

Oleh Anwar Hudijono, wartawan senior tinggal di Sidoarjo

Sidoarjo, 16 November 2020

SRIPOKU.COM - Blak-blakan saja, salah satu misi saya menulis tentang Habib Rizieq Shihab (HRS) ini untuk numpang beken. Nggandul popularitas. Siapa tahu katut viral layaknya perahu gabus terbawa arus sungai. Jika dibuat analog, saya ini seperti laron yang mendekati lampu neon yang menyala sendirian di tengah perempatan jalan.

Seekor laron yang terbang di dekat lampu neon akan terlihat keren. Lantas jadi inspirasi menulis puisi: sang laron menari-nari. Coba laron terbang di bawah gelapnya rerimbunan pohon keres, mana ada yang peduli.

Yang mendatangi lampu neon tidak cuma laron seorang. Tapi juga banyak laron lain. Banyak lagi serangga seperti mrutu, nyamuk, capung, kaper, manyang. Bahkan serangga berbau tidak enak seperti kepik dan walang sangit juga mendatangi. Seandainya garangan dan nyambik bisa terbang, mungkin juga akan mendatangi. Yang pasti juga mendatangi adalah cicak karena hendak mencari makan dengan memangsa serangga.

Neon menyala sendirian di tengah perempatan jalan memang menarik perhatian. Apalagi ketika neon-neon yang lain meredup atau bahkan padam. Benar-benar sesuatu banget.

Dalam sudut padang kultur politik Jawa, HRS saat ini ibarat orang yang sedang melakukan pepe ing sangandhaping bandhera sinengker (berjemur di bawah kibaran  bendera pusaka negara) yang terletak di tengah alun-alun. Sedang alun-alun itu berada di depan paseban agung, tempat raja menerima para tamu untuk menghadap. Tujuan orang yang melakukan pepe adalah untuk bisa berdialog langsung dengan raja.

Pepe adalah insitusi sakral. Merupakan pengejewatahan atas penghormatan terhadap hak asasi manusia yaitu kebebasan. Kebebasan adalah fitrah manusia. Siapapun tidak boleh melarang. Bahkan raja pun tidak berani menghapuskan. Siapapun, meski hanya wong cilik ongklak-angklik (rakyat kecil papa) yang melakukan pepe, harus dijamin keselamatannya. Tidak boleh diintervensi. Apalagi dipidana.

Pepe adalah proses politik di mana rakyat ingin bertemu dan berdialog langsung dengan rajanya. Biasanya sebagai ikhtiar terakhir rakyat untuk mendapat keadilan. Menyampaikan aspirasi karena saluran formal yang ada sudah benar-benar buntu.

Saat melakukan pepe, seseorang atau sekelompok orang akan duduk di bawah kibaran bendera kerajaan. Hal itu sebagai simbol perikeberadaan mereka sah. Dijamin negara. Meneguhkan tujuan pendirian negara yaitu untuk melindungi setiap warga negara dan tumpah darahnya.

Halaman
1234
Editor: Welly Hadinata
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved