Breaking News:

Opini Kita Hari Senin Ini : Memahami dan Mengambil Pelajaran dari Pemilu AS (Amerika Serikat)

Yang paling baru adalah AS menyatakan diri keluar dari WHO karena Trump menganggap WHO telah disetir oleh China dan merugikan AS (Amerika Serikat)

Tribunnews.com
Calon Presiden Joe Biden (kanan) dan Donald Trump (kiri) 

SRIPOKU.COM, KALTIM - DALAM beberapa hari terakhir ini kita dan hampir di seluruh dunia disuguhi hingar bingarnya pelaksanaan pemilu di Amerika Serikat (AS). 

Beberapa joke dan meme- meme berseliweran di media sosial kita yang menunjukkan bahwa terhadap peristiwa pemilu AS kali ini, perhatian masyarakat cukup besar.

Mengapa saya sebagai pemerhati masalah lingkungan tertarik untuk membahas Pemilu di AS yang melibatkan Donald Trump ini? 

Alasannya adalah, Donald Trump cenderung anti atau tidak peduli pada pelestarian lingkungan, sehingga merasa perlu mengemukakan pelajaran yang bisa diambil.

Sampai tulisan ini dibuat, Donald Trump belum mau mengakui kekalahannya, karena dianggap pemilunya curang (bayangkan, calon incumbent yang masih memerintah menuduh panitia pemilihan umum yang ditunjuk oleh pemerintah curang/menguntungkan lawan hehehehe), walaupun dari hitungan real count yang dilakukan oleh "KPU" tiap tiap negara bagian dan juga oleh media penyiaran TV utama di antaranya CNN, MSNBC, ABC dan bahkan Fox News yang selalu berada dipihak Donald Trump, sudah memprediksikan Joe Biden akan mendapat 306 electoral vote sementara Donald Trump hanya mendapat 232 electoral vote.

Perlu diketahui, di Amerika Serikat, walaupun selalu disebutkan sebagai negara demokrasi nomor 1 di dunia, pemilunya tidak menganut pemilihan langsung atau satu pemilih satu suara dalam menentukan presidennya, tetapi jumlah suara pemilih akan menentukan kemana perwakilan suara negara bagian tersebut (disebut electoral vote) mengarahkan dukungannya, dengan prinsip winner's takes all (pemenang mengambil seluruh suara).

Contohnya di negara bagian Pennsylvania yang mempunyai 20 electoral vote, begitu Joe Biden suaranya menguasai 50 % suara, sementara Donald Trump 49 % suara dan calon independent 1 %, maka Joe Biden sebagai pemenang mendapat seluruh/100% dari 20 electoral vote dari negara bagian Pennsylvania, bukan berdasar presentase suara yang didapat.
 

Pola ini pada pemilihan presiden tahun 2016 lalu pernah sangat menguntungkan Donald Trump, dimana pada saat itu sebenarnya dari jumlah suara pemilih keseluruhan Hilary Clinton lebih unggul sekitar 3 juta suara, tetapi Donald Trump lebih unggul jumlah electoral vote nya, sehingga Donald Trump dinyatakan sebagai pemenang dan menjadi presiden.

Tetapi untuk kondisi tahun 2020 ini,  Joe Biden diprediksi juga unggul sekitar 5 juta pemilih suara

Keengganan Donald Trump untuk mengakui kekalahannya ini tidak pernah terjadi sebelumnya di AS. 

Baca juga: Rambut Donald Trump Disorot Pasca Kalah dari Joe Biden, Jadi Abu-Abu dan Warna Aslinya Makin Pudar

Halaman
1234
Editor: aminuddin
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved