Breaking News:

Menjadi Pemilih Rasional Saat Pilkada, Bisakah?

Tanggal 9 Desember mendatang sebagian masyarakat Indonesia akan melaksanakan pemilihan umum ke­pala daerah (Pilkada).

Menjadi Pemilih Rasional Saat Pilkada, Bisakah?
SRIPOKU.COM/ABDUL HAFIZ
Joko Siswanto, Pengamat Politik dan Dosen Ilmu Politik FISIP UNSRI

Oleh: Joko Siswanto

Dosen Ilmu Politik FISIP UNSRI

Tanggal 9 Desember mendatang sebagian masyarakat Indonesia akan melaksanakan pemilihan umum ke­pala daerah (Pilkada).

Masyarakat yang mempunyai hak pilih diharapkan bisa menggunakan hak pi­lih­nya.

Walaupun dalam situasi pandemi covid-19, masyarakat tidak perlu khawatir untuk datang ke TPS un­­tuk menggunakan hak pilihnya.  Itu bisa terlaksana sepanjang semua pihak menerapkan secara disiplin protokol kese­hat­an tiga M (memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak).

Dalam setiap pemilihan umum (pilkada), subyek politik yang memegang peran penting karena me­nen­tu­kan hasil pemilu/pilkada adalah pemilih.

Kehadiran pemilih di TPS sangat diharapkan karena sangat me­nentukan kemenangan atau kekalahan peserta pemilu.

Selain itu, partisipasi masyarakat datang ke tPS un­tuk menggunakan hak pilihnya juga bisa dijadikan indikasi pemilu atau pilkada sukses atau tidak.

Jika par­tisipasinya tinggi, 60% ke atas, maka dapat dikatakan relatif sukses.

Sebaliknya jika partisipasi 60% ke bawah bisa dikatakan relatif tidak sukses.

Halaman
1234
Editor: Salman Rasyidin
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved