Breaking News:

6000 Ha Lahan Sawah di OKU Selatan Beralih Fungsi, Ada yang Digunakan Jadi Infrastruktur Daerah

Berdasarkan data dari sensus pertanian tahun 2019 semula terdata 17.186 Ha mengalami pengurangan seluas 6.014,56 hektare lahan sawah.

Penulis: Alan Nopriansyah | Editor: Refly Permana
sripoku.com/alan
Kepala Dinas Pertanian Ir Asep Sudarno saat diwawancara media usai reses dengan Anggota DPRD Dapil V, Rabu (14/10/2020). 

Laporan wartawan Sripoku.com, Alan Nopriansyah

SRIPOKU.COM, MUARADUA - Garapan lahan persawahan komuditas petani padi di Kabupaten OKU Selatan semakin berkurang.

Berdasarkan data dari sensus pertanian tahun 2019 semula terdata 17.186 Ha mengalami pengurangan seluas 6.014,56 hektare lahan sawah.

Saat ini, setelah verifikasi dan validasi luas sawah melalui konsultan dari PU dan BPN dengan hasil di lapangan luas lahan sawah di Bumi Serasan se-Andanan menyisakan 11.171,44 Ha lahan persawahan yang diusulkan Pemprov ke Kementrian Agraria Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).

Baca juga: Tarif Ruas Tol Kayuagung-Palembang November Ini Resmi Diberlakukan, Besarannya Masih Dirahasiakan

Pengurangan 6 ribu hektare lahan sawah di OKU Selatan, dikatakan Kepala Dinas Pertanian Ir Asep Sudarno, karena beralih fungsi ke usaha perkebunan jagung dan kopi, serta sebagian ke infrastruktur daerah.

"Pengurangan ribuan hektare kemungkinan sawah yang sudah alih fungsi jadi kebun kopi, jadi kebun jagung dan sedikit menjadi alih fungsi untuk infrastruktur," ujar Kepala Dinas Pertanian.

Menurut Asep, petani memilih mengalihkan fungsi lahan sawah ke ladang kopi dan jagung disebabkan karena kurangnya sumber daya air seperti bendungan irigasi.

Baca juga: VIRAL Demi Halalkan Pujaan Hati, Pria Ini Ajak Keluarga Susuri Jalan Terjal nan Becek, Naik Gunung!

Mengingat sumber aliran persawahan milik petani di OKU Selatan membutuhkan aliran air agar tidak mengalami gagal panen.

"Karena kenapa petani berpindah ke jagung dan kopi, air irigasi gak ada," tambah Asep.

Terkait kekhawatiran petani mengalami gagal panen, Asep menyarankan para petani menggunakan Asuransi Usaha Tanaman Padi (AUTP) dari program pemerintah.

Hanya saja saat ini masih sebagian kecil pengguna asuransi dari dari ribuan kelompok Tani padi di OKU Selatan hanya sebagian kecil terdaftar di AUTP.

Baca juga: Polisi & Rombongan Gatot Nurmantyo Adu Mulut Karena tak Diberi Izin Jenguk Tokoh KAMI yang Ditangkap

Hal itu diungkapkan Asep, dari 2000 kelompok tani padi di OKU Selatan hanya 6 kelompok tani yang tergabung di Asuransi AUTP atau hanya tidak menyentuh angka 1 persen yang dinilai para petani tidak memahami walaupun menurutnya telah disosialisasikan sejak setahun belakangan ini.

"Asuransi ini mungkin petaninya yang belum ngeh (paham) kita sudah sosialisasikan sejak setahun terakhir, tetapi di OKU Selatan tidak banyak hanya 6 kelompok tani (yang terdaftar AUTP) dari total 2 ribuan lebih yang kelompok tani," ujar Asep.

Hal itu dibantah dengan fakta di lapangan, dari keterangan kelompok petani padi Hardi, ia menuturkan sejauh ini pihaknya belum pernah mengetahui mekanisme sosialisasi tentang Asuransi Usaha Tanaman Padi (AUTP) diwilayahnya.

Baca juga: Kasus LGBT Hebohkan Internal TNI, Pimpinan TNI AD Marah Besar, Praka P Dipecat

'Kita tidak tahu, bagaimana caranya dan asuransi apa itu, karena sejauh ini belum ada penyampaian ataupun sosialisasi dari pihak manapun terkait asuransi bagi petani padi,"tuturnya dikonfirmasi Sripoku.com, Rabu (14/10/2020).

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved