Breaking News:

Virus Corona di Sumsel

Prana Putra Sohe Minta Seluruh Ponpes di Lubuklinggau Tingkatkan Prokes Pasca Ada Klaster Pesantren

Wali Kota Lubuklinggau, SN Prana Putra Sohe, meminta semua pondok pesantren meningkatkan pengetatan protokol kesehatan

Shutterstock
Ilustrasi virus corona, gejala virus corona(Shutterstock) 

SRIPOKU.COM,LUBUKLINGGAU -- Wali Kota Lubuklinggau, SN Prana Putra Sohe, meminta semua pondok pesantren meningkatkan pengetatan protokol kesehatan di Ponpes masing-masing.

Hal ini seiring meningkatnya jumlah Corona dari klaster ponpes di Lubuklinggau.

"Kalau kena (Covid-19) tidak bisa tidak diisolasi karena sangat berat, apabila dibiarkan orang pondoknya bahaya juga, iya kita sehat tapi yang lain bagaimana," kata dia, Kamis (24/9/2020).

Pasca adanya klaster Covid-19 di dua pondok pesantren (Ponpes) Kota Lubuklinggau membuat Satuan Gugus Tugas (Satgas) Covid-19 kota setempat berkeliling melakukan silaturahmi.

Kunjungan tersebut dipimpin Wakil Wali Kota Lubuklinggau bersama Kodim 0406, Polres Lubuklinggau, Kemenag, dan Sat Pol PP.

Menurut dia, pandemi Covid-19 ini tidak akan selesai dalam waktu dekat, melainkan akan terjadi dalam rentan waktu lama, bahkan, bisa sampai Desember mendatang atau tahun depan.

65 Santri Ponpes Lubuklinggau Terkonfirmasi Positif Covid-19, Semua Terlihat Sehat

 

Tiap Malam Salat Tahajud Aktivitas 64 Santri yang Terpapar Covid-19 di Lubuklinggau

"Kita tahu semua pondok (Di Lubuklinggau) tidak ada yang representatif untuk kamarnya, ada yang isinya 10 orang, 6 orang, bahkan ada yang tidak punya ventilasi sama sekali," ujarnya.

Untuk itu, atas dasar pertimbangan keselamatan semuanya itu. Baik untuk para santri, ustad dan ustazahnya, sebab Covid-19 ini tidak pandang bulu sikaya, miskin bahkan pejabat sekali pun.

"Corona ini tidak pandang bulu disaat kita lemah, dia (corona) masuk, habis semuanya bupati saja kena, wali kota kena, ada yang sampai meninggal dunia malahan," ungkapnya.

Sementara disisi lain saat ini Pemerintah bila tidak bergerak maka dianggap pemerintah tidak bekerja, dan tidak ada upaya melakukan pencegahan, apalagi sampai mengalami kenaikan hingga mencapai 500 kasus.

"Apa kata orang-orang. Naik sehari 40 kan bisa bahaya, itu yang kita tidak inginkan, itulah saya mintak tolong pak Kapolres, pak Dandim dan Wawako, sementara ini juga tolong siapi vitamin untuk penyehatan yang terkena ini," ujarnya.

Sedangkan, disatu sisi lainnya saat ini anggaran Pemkot sangat terbatas, tidak semua santri bisa dilakukan swab test karena keterbatasan anggaran.

Jadi saat ini tujuannya bukan hanya menyehatkan tapi yang paling utama adalah keselamatan.

"Saya yakin yang kena itu tidak ada yang demam, dikala sakit masuk sama seperti saya, (corona) masuk habis kita," katanya (Joy)

Editor: Yandi Triansyah
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved