Penanaman Perdana Porang di Sumsel, Herman Deru Dorong Banyuasin Jadi Sentra Porang Selain Beras

Dan kedepan daerah ini akan menjadi sentra budidaya porang sebagai alternatif komoditas pertanian yang bernilai ekonomis.

Editor: Refly Permana
humas pemprov sumsel
Gubernur Sumsel, Herman Deru, hadiri penanaman porang perdana di Sumsel yang dilakukan di Kabupaten Banyuasin. 

Dia pun meyakinkan, jika nantinya budidaya porang ini mendapatkan hasil yang baik untuk pembangunan ekonomi masyarakat, maka dirinya akan turun langsung berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk penambahan lahan.

"Kalau memang hasilnya nanti sesuai harapan dan menjanjikan untuk kesejahteraan masyarakat.

Saya akan berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk meminjam lahan yang tidak produktif menjadi lahan untuk porang ini," bebernya.

Kendati begitu, dia mewanti petani porang agar selalu melakukan perhitungan sehingga nantinya tidak over suplay yang justru akan merugikan.

"Karena itu perlu adanya komunikasi dengan Dinas Perdagangan dan Kementerian Perdagangan agar ada perhitungan yang tepat. Jangan sampai karena terlalu menggebu, ini merugikan.

Kalau bisa juga kita ada pabrik pengolahannya, agar tidak bergantung dengan pihak lain," jelasnya.

Untuk diketahui, tanaman porang atau di Sumsel lebih dikenal juga dengan nama talas ular merupakan spesies dari Amorphophallus muelleri.

Herman Deru Gelontorkan Bantuan Puluhan Miliar ke Muratara, Bangun Infrastruktur hingga Pasar Induk

Dilansir dari Kementerian Pertanian, umbi porang banyak mengandung glucomannan berbentuk tepung.

Glucomannan merupakan serat alami yang larut dalam air biasa digunakan sebagai aditif makanan sebagai emulsifier dan pengental, bahkan dapat digunakan sebagai bahan pembuatan lem ramah lingkungan dan pembuatan komponen pesawat terbang.

Porang juga merupakan tanaman yang toleran dengan naungan hingga 60 persen. Tanaman ini dapat tumbuh pada jenis tanah apa saja di ketinggian 0 sampai 700 mdpl.

Bahkan, sifat tanaman tersebut dapat memungkinkan dibudidayakan di lahan hutan di bawah naungan tegakan tanaman lain.

Untuk bibitnya biasa digunakan dari potongan umbi batang maupun umbinya yang telah memiliki titik tumbuh atau umbi katak (bubil) yang ditanam secara langsung.

Tanaman porang disebut-sebut memiliki nilai strategis untuk dikembangkan karena memiliki peluang yang cukup besar untuk diekspor.

Catatan Badan Karantina Pertanian menyebut, ekspor porang pada tahun 2018 tercatat sebanyak 254 ton, dengan nilai ekspor yang mencapai Rp 11,31 miliar ke sejumlah negara seperti Jepang, Tiongkok, Vietnam, Australia dan lain sebagainya.

Halaman
123
Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved