Breaking News:

Berita Palembang

Kamus Aksara Jawi dan Kitab Fiqih Milik KH Ahmad Yani Dihibahkan ke Museum Negeri Sumsel

Dua buah kitab kamus aksara jawi dan kitab fiqih dihibahkan kepada Museum Negeri Sumsel Balaputra Dewa beberapa waktu lalu.

SRIPOKU.COM/Maya Citra Rosa
Kitab kamus dan Fikih milik KH Ahmad Yani yang dihibahkan ke Museum Negeri Sumsel di Palembang, Minggu (6/9/2020) 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Dua buah kitab kamus aksara jawi dan kitab fikih dihibahkan kepada Museum Negeri Sumsel Balaputra Dewa beberapa waktu lalu.

Kitab-kitab tersebut adalah oleh-oleh yang dibawa pulang dari perjalanan haji KH Ahmad Yani ke Indonesia, diperkirakan cetakan sekitar Tahun 1929.

KH Ahmad Yani merupakan cucu dari Pangeran Masugah bin Dangsun, seorang pesirah di Desa Sugihan, Kecamatan Muara Dua Kisam Kabupaten  OKU Selatan.

Sebelumnya kitab tersebut disimpan oleh Tasdin sejak Tahun 2010, secara turun temurun hingga generasi keempat.

Desa tersebut dulu dikenal dengan sebutan Marga Bayur, yang merupakan daerah kekuasaan pesirah Pangeran Masugah bin Dangsun.

Kemas Ari Panji, Sejarahwan Sumsel yang ikut melihat langsung kitab-kitab tersebut mengatakan belum dapat dipastikan kapan KH Ahmad Yani pergi haji.

Menurutnya, Kitab kamus dan ushul fikih seperti itu sudah langka, dan tidak dicetak lagi pada masa ini.

Jatuh Bangun Sop Janda Tanjung Enim, Terpuruk Karena Isu Covid-19 dan Diutangi Perusahaan Bangkrut

Tiga Sekolah di Kabupaten OKU Timur Pilih Tunda Melakukan Belajar Tatap Muka, Wali Siswa Keberatan

Kabar Gembira dari Muara Enim, Tidak Ada Penambahan Positif Covid-19 Justru Sembuh 16 Orang

Karena pada masa itu, ibadah haji dapat dilakukan hingga bertahun-tahun, yang berbeda dari saat ini. Sehingga sulit memastikan tahun berapa KH Ahmad Yani pergi haji.

"Sebenarnya masih banyak koleksi yang dibawa oleh KH Ahmad Yani, namun yang dihibahkan hanya 2 kitab tersebut," ujarnya saat ditemui, Selasa (1/9/2020) lalu.

Selain itu, tradisi haji yang berbeda juga menjadi sebab mengapa orang zaman dahulu membawa perbekalan yang sangat banyak.

Orang zaman dulu yang pergi haji hingga bermukim satu hingga beberapa tahun, berlayar menggunakan kapal hingga berbulan-bulan) lamanya.

"Mereka sambil belajar ilmu agama, pulang ke Indonesia itulah yang mereka bawa pulang sebagai bekal belajar dalam perjalanan dan di kampung halaman," ujarnya.

Buku-buku yang dibawa hingga berpeti-peti, yang dikenal dengan ensiklopedi, buku-buku dari Mekkah, Yaman, Mesir dan sebagainya, mereka juga disebut haji mukim.

"Termasuk ulama-ulama kita pada zaman dulu, mereka belajar ke Arab bertahun-tahun di Mekah lalu membawa ilmunya untuk disiarkan di Indonesia," ujarnya.

Penulis: maya citra rosa
Editor: Tarso
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved