Ditinggalkan Suami Tanpa Alasan Jelas, Wanita di NTT Ini Berhasil Berjuang Lahirkan Anak Kembar 3
Meskipun ditinggal sang suami tanpa alasan yang jelas, seorang wanita di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) melahirkan tiga bayi kembar.
SRIPOKU.COM -- Meskipun ditinggal sang suami tanpa alasan yang jelas, seorang wanita di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) melahirkan tiga bayi kembar.
Wanita yang bernama Efi Bani itu melahirkan anak-anaknya tanpa didampingi sosok suami.
Ia melahirkan di Rumah Sakit Siloam Kupang.
Ketiga anaknya lahir pada Sabtu (8/8/2020).
Wajahnya masih terlihat pucat setelah melahirkan.
Kendati demikian, kebahagiaan Efi jelas terpancar di raut wajahnya.

• Batal Diumukan 20 Agustus, Pengumuman SBMPTN 2020 Dipercepat, Lihat di 13 Link Ini
• Besaran Gaji Pegawai KPK Tak Berubah Meski Jadi ASN, Ini Rinciannya Mulai Pimpinan Hingga Pegawai
• Rumah Berukuran 40 Mater Ini Berdiri Kokoh Ditengah Jalan Raya, Pemilik Tolak Kompensasi Rp 2,7 M
Wanita berusia 36 tahun itu melahirkan anak kembarnya sekitar pukul 10.00 Wita.
Ia melahirkan lewat operasi caesar.
Bayi pertama jenis kelamin perempuan, lahir pada pukul 10.07 Wita, dengan berat badan 2.550 gram dan panjang 45 sentimeter.
Selanjutnya bayi kedua jenis kelamin laki-laki lahir pada pukul 10.08 Wita, dengan berat badan 1.800 gram dan panjang badan 41 sentimeter.
Kemudian bayi ketika laki-laki, lahir pada pukul 10.09 Wita, dengan berat badan 2.600 gram dan panjang badan 48 sentimeter.
Proses operasi caesar ketiga bayi kembar tersebut dibantu tiga dokter spesialis, yakni Yosef Oematan, Andie Nuhari Barzah dan Jenny Elizabeth Pally.

• Uji Coba Vaksin Covid-19 Dari China, 1.620 Orang Rela Jadi Relawan, Penyuntikan Disaksikan Jokowi
• Masih Bingung Dengan Status ASN dan PNS? Ini Penjelasannya Menurut Undang-Undang
• Tanpa si Baby Alien MotoGP Austria Sukar Ditebak, Berikut Fakta Marc Marquez Harus Jalani Operasi
Saat ini, Efi dan tiga anaknya masih dirawat di rumah sakit tersebut.
Efi mengaku, suami tidak mendampingi saat proses melahirkan karena telah lama meninggalkan dirinya.
"Suami saya sudah tinggalkan saya tanpa alasan yang jelas,
saat usia kehamilan tiga bulan," ungkap Efi kepada sejumlah wartawan, Minggu (9/8/2020).
Meski begitu, Efi mengaku bersyukur dan akan fokus membesarkan buah hatinya.
"Tambah tiga ini, anak saya sekarang semuanya ada enam orang," ujar Efi.
Efi yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di salah satu keluarga di Kota Kupang ini, berjanji akan setia merawat semua anak-anaknya.
Dia pun yakin, Tuhan akan membuka jalan dan pintu rezeki bagi dia dan anak-anaknya.
Dihubungi terpisah, Jenny Elizabeth Pally, dokter yang membantu proses persalinan mengatakan, proses melahirkan bayi kembar tiga merupakan perdana dan baru pertama kali terjadi di rumah sakit swasta tersebut.
"Semua berjalan dengan baik tanpa adanya kendala apa pun," ungkap Jenny.
Menurut Jenny, tiga bayi kembar itu mempunyai satu plasenta dengan tiga kantong bayi.
"Kemarin, setelah selesai dioperasi tiga bayi kembar itu langsung rawat gabung sama ibunya di ruang Maternity lantai 6,"ungkap Jenny.
Rencananya, kata Jenny, ibu dan bayi kembar tersebut sudah bisa keluar dari rumah sakit pada Senin (10/8/2020) besok.

Peristiwa persalinan pasien tanpa bantuan tenaga medis di RS Pelengkap Jombang, Jawa Timur, Selasa (4/8/2020) lalu, mendapat sorotan dari pemerintah daerah setempat.
Pada Selasa, seorang pasien bersalin di rumah sakit tersebut melahirkan anaknya tanpa kehadiran dan bantuan tenaga medis, baik bidan maupun perawat.
Selain melahirkan tanpa bantuan tenaga medis, bayi yang dilahirkan pasien juga meninggal dunia setengah jam setelah lahir.
Bupati Jombang Mundjidah Wahab menyesalkan adanya kejadian itu dan berharap peristiwa serupa tidak terulang.
"Saya sangat menyesalkan kejadian ini dan kejadian seperti ini tidak boleh terulang lagi," kata Mundjidah melalui pesan tertulis kepada Kompas.com.
Pesan tersebut diterima Kompas.com melalui Alfiyah Ashmad, staf ahli bupati Jombang, Jumat (7/8/2020) malam.
Menurut dia, rumah sakit seharusnya menjadi tempat yang aman bagi pasien, terutama pasien ibu hamil yang sedang membutuhkan bantuan persalinan.
"Rumah sakit seharusnya menjadi tempat paling aman dan pasien cepat mendapat pertolongan melahirkan," ujar Mundjidah.
Pemkab Jombang akan menentukan sikap terkait peristiwa persalinan di RS Pelengkap setelah Dinas Kesehatan merampungkan proses audit.
Selain itu, Pemkab Jombang juga akan menentukan langkah-langkah yang tepat agar peristiwa yang sama tidak terjadi.
"Saat ini saya menunggu laporan hasil audit dinkes (Dinas Kesehatan). Setelah itu akan diambil langkah-langkah yang tepat," kata Mundjidah.
Dikatakan, langkah pencegahan agar peristiwa serupa tidak terulang, tidak hanya pada RS Pelengkap.
"(Langkah-langkah) termasuk mencegah hal-hal semacam ini agar tidak terulang, termasuk di faskes (fasilitas kesehatan) yang lain," pungkas Mundjidah.
Sebelumnya diberitakan, BK dan DR, pasangan suami istri asal Jombang, Jawa Timur, kecewa dengan pelayanan RS Pelengkap Jombang.
Kejadian itu membuat pasangan ini kehilangan anak kedua mereka yang baru saja dilahirkan.
DR mengaku tidak ada satu pun tenaga medis yang membantu persalinannya. Padahal, ibunya, AL sudah berupaya memanggil para petugas. (Tribunnewsmaker/*)
Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Perjuangan Wanita di Kupang Melahirkan 3 Bayi Kembar, Suami Menghilang Tanpa Kabar" dan "Ibu Melahirkan di RS Tanpa Bantuan Tenaga Medis, Bupati Jombang Menyesalkan"