Breaking News:

Belanda Urung Bom Dusun Tanjung Merdeka, Dikira Pohon Pisang, Ini Asal-usul Terawas di Musirawas

Dikisahkan bahwa Dusun Tanjung Merdeka pernah akan menjadi sasaran pengeboman pasukan Belanda dari udara pada masa itu.

kolase Sripoku.com
Hamam, Kabid Kebudayaan Disbudpar Kabupaten Musirawas 

Laporan wartawan Sripoku.com, Ahmad Farozi

SRIPOKU.COM, MUSIRAWAS - Salah satu dari 14 kecamatan yang terdapat dalam wilayah Kabupaten Musirawas adalah Kecamatan Suku Tengah Lakitan (STL) Ulu Terawas. Dahulu kala, Kecamatan STL Ulu Terawas adalah sebuah dusun, yang bernama Dusun Tanjung Merdeka.

Mengutip dari buku "Sejarah, Legenda dan Cerita Rakyat Kabupaten Musirawas" yang diterbitkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Musirawas, akisah, pada zaman kolonial Belanda berabad silam, ada sebuah wilayah yang bernama Dusun Tanjung Merdeka (sekarang jadi Kecamatan STL Ulu Terawas).

Dinamakan Tanjung Merdeka, karena di dusun tersebut ada dua aliran sungai. Yaitu Sungai Baal dan Sungai Lakitan yang memiliki tanjung atau tanah menganjur (menjorok) ke sungai.

Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata tanjung adalah tanah ujung yang menganjur ke laut. Sehingga awal nama dusun ini disebut Tanjung.

Sedangkan kata "Merdeka" menurut KBBI adalah bebas. Bermula dari selalu lolosnya (bebas) wilayah tersebut dari pengeboman atau serangan pasukan kolonial Belanda pada masa itu.

Dikisahkan bahwa Dusun Tanjung Merdeka pernah akan menjadi sasaran pengeboman pasukan Belanda dari udara pada masa itu.

Namun bom dari udara itu urung dilepaskan oleh pasukan Belanda, karena mereka hanya melihat sasaran pengeboman Dusun Tanjung Merdeka, hanyalah berupa hamparan pohon pisang.

Konon dikisahkan, Belanda yang urung mengebom Dusun Tanjung Merdeka akhirnya mengarahkan sasaran pengeboman ke wilayah Dusun Selangit (sekarang Kecamatan Selangit), dan berdekatan dengan Dusun Tanjung Merdeka atau yang kini dikenal dengan nama Kecamatan STL Ulu Terawas.

"Ada juga yang menyebut Dusun yang dulunya bernama Dusun Tanjung Merdeka sekarang kita kenal dengan nama Terawas. Mungkin maksudnya dusun dan penduduknya selalu dalam pengawasan alias senantiasa mendapat perlindungan dari gangguan apapun. Dan kata Ter-Awas akhirnya disempurnakan menjadi kata atau nama TERAWAS, hingga sekarang," tutur Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Musirawas, Hamam, kepada Sripoku.com, Minggu (2/8/2020).

Halaman
12
Penulis: Ahmad Farozi
Editor: Welly Hadinata
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved