Breaking News:

Human Interest Story

Geliat Usaha Rumah Knockdown di Tanjung Batu Ogan Ilir, Terdekat ke Pulau Jawa Terjauh Spanyol

Butuh waktu sekitar 1-2 bulan untuk menyelesaikan rumah knockdown tipe 68. Itupun, hanya 3 orang yang bekerja.

SRIPOKU.COM / RM Resha A.U
Sebuah Rumah Knockdown yang tengah dibangun di Desa Tanjung Batu Seberang, Kecamatan Tanjung Batu Kabupaten Ogan Ilir. Rumah tersebut meniru Rumah Adat di daerah Lombok 

Suara gergaji yang bergesekan dengan kayu, mewarnai tempat pembuatan Rumah Knockdown alias bongkar pasang di Desa Tanjung Batu Seberang, Kecamatan Tanjung Batu Kabupaten Ogan Ilir, Sumsel.

Maklum, mayoritas penduduk di desa itu memang berprofesi sebagai pembuat rumah tersebut.

Saat disambangi Jumat (24/7/2020), sebuah halaman kosong disulap menjadi 'bengkel' tempat membuat rumah kayu itu. Ada 3 orang pekerja di sana, yang tengah sibuk memotong dan menyerut kayu untuk dipotong di sana.

Cerita Pengrajin Rumah Knockdown di Tanjung Batu Ogan Ilir, Peminatnya Sampai di Spanyol

Saat dibincangi, butuh waktu sekitar 1-2 bulan untuk menyelesaikan rumah knockdown tipe 68. Itupun, hanya 3 orang yang bekerja.

"Kayunya menggunakan Kayu Seru, untuk tulang. Dinding dan alasnya pakai Kayu Meranti, dan alasnya Kayi Duren," ujar seorang tukang yang tengah bekerja, Tomi.

Ia dan rekan-rekannya yang lain telah menekuni usaha tersebut sekitar 30 tahun lebih. Selama itu, belum pernah ada yang komplain tentang ketahanan rumah yang mereka buat.

"Bahkan sampai jadi anak cucu, masih tahan ini rumah. Walaupun kena panas hujan, Alhamdulillah masih tahan," tuturnya.

Soal harga, pihaknya mematok harga Rp60 juta untuk tipe paling kecil, yakni tipe 46. Dan untuk tipe 68, harga yang dipatok yakni Rp90 juta.

Pihaknya mengaku saat ini masih banyak langganan dari Pulau Jawa. Konsumen biasanya memesan untuk Gazebo, Resort tempat beristirahat sampai ke tempat santai di tengah kebun.

"Ada beberapa rekan sesama kami ngirim sampai ke Bali, bahkan Spanyol. Biasanya sebulan kami dapat 2-3 unit pesanan," jelasnya.

Senada, pemilik usaha yang sama Ahmad Rumah Kayu mengatakan bahwa pesanan yang datang kebanyakan dari dalam dan luar provinsi Sumsel. Mereka pun mengirim dengan truk ekspedisi dalam bentuk bongkaran, untuk kemudian dirakit lagi di lokasi pemesan.

"Satu truk bisa bawa 2 unit tipe 46. Setelah dirakit di lokasi, hanya butuh waktu 10 hari," ujar Ahmad yang keluarganya telah menekuni usaha itu turun temurun.

Ia bercerita, zaman dulu orang yang buat harus datang ke lokasi tempat orangn yang memesan. Mereka membuat di lokasi, merakit dan membangun di tempat itu.

"Sekarang kita buat di sini. Tinggal kirim via truk," jelasnya. (mg5)

Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved