Breaking News:

Berita Palembang

PERISTIWA Kasus Pembunuhan Marak di Palembang, Pengamat Hukum Sebut Pelaku tak Bisa Tahan Naluri

Di dalam ilmu kriminologi, setiap orang memiliki naluri melindungi. Ketika ibu, istri, saudara ataupun orang terkasih lainnya diganggu maka naluri

Penulis: Odi Aria Saputra | Editor: Welly Hadinata
SRIPOKU.COM/DOKUMEN
Pengamat Hukum Dr Azwar Agus SH M.Hum yang juga menjabat sebagai Rektor Univesitas Tamansiswa Palembang 

Laporan wartawan Sripoku.com, Odi Aria

SRIPOKU.COM PALEMBANG -  Pengamat Hukum, Dr Azwar Agus SH M.Hum menilai peristiwa pembunuhan di Palembang yang melibatkan satu keluarga dengan tega menghabisi tetangga sendiri dikarenakan para pelaku tak bisa menahan naluri mereka sebelum bertindak.

Di dalam ilmu kriminologi, setiap orang memiliki naluri melindungi. Ketika ibu, istri, saudara ataupun orang terkasih lainnya diganggu maka naluri seseorang akan timbul untuk melindungi.

"Dalam dua kasus pembunuhan yang terjadi dalam sepekan di Palembang ini, para pelaku tak bisa lagi menahan naluri mereka. Sehingga terjadilah insiden pengeroyokan berujung kematian," katanya, Kamis (23/7/2020).

Ia menjelaskan, setiap manusia memiliki naluri melindungi. Namun hasrat untuk melakukan kejahatan bakal bisa diredam apabila, seseorang tersebut di dalam dirinya dibentengi dengan norma dan iman.

CATAT Operasi Patuh Musi 2020 Mulai Digelar Hari Ini, Pengendara Ini yang Menjadi Target Polantas

Pelaku Pembunuhan Nenek Kandung di Empat Lawang Bakal Diperiksa Kejiwaannya, Begini Kata Polisi

Pelanggaran Lalu Lintas di OKU Didominasi Pengendara Tidak Pakai Helm

Namun, bagi seseorang yang tak bisa menahan nalurinya, ketika mereka merasa yang dilakukan korban sudah menyinggung perasaan dan kehormatan, maka tanpa pikir panjang mereka akan melakukan kejahatan secara bersama dengan anggota keluarga lainnya.

"Hasrat untuk melakukan kejahatan bakal bisa diredam apabila seseorang dibentengi dengan norma dan iman," tegas Azwar yang juga menjabat sebagai Rektor Univesitas Tamansiswa Palembang.

Menurutnya, faktor sosial dan lingkungan juga menjadi pemicu kerap terjadinya tindak kriminal di kota pempek. Sikap cemburu terhadap keberhasilan orang lain, menjadi dorongan lainnya untuk para pelaku mengambil tindakan tanpa pikir panjang terlebih dahulu.

3 Resep Makanan dari Daging Kambing, Rekomen untuk Menu saat Idul Adha, Cocok Untuk Kumpul Keluarga

Tak Serta Merta Bebas, Anak Presiden di Negara Ini Diberi Aturan Ketat, No 2 Dilarang Buka Jendela

CERITA Seorang Wanita Dipaksa Menikahi Pria Keterbelangkangan Mental, Malam Pertama Diintip Mertua!

Dalam kondisi pandemi saat ini, juga membuat pikiran masyarakat menjadi sumbu pendek alias tak berpikir panjang. Dalam keaadan ekonomi yang tengah sulit, ditambah problem pelik melanda membuat emosi seseorang dengan mudah terpancing untuk bertindak kejahatan.

Selain itu, media sosial turut serta memberikan peran terhadap terjadinya tindak kriminal. Video kekerasan yang dengan mudah tersebar, membuat alam bawah sadar manusia berpikiran untuk meniru perbuatan yang dilihat tanpa mencernanya terlebih dahulu.

"Tindak kriminal pembunuhan merupakan permasalahan di kota-kota besar. Permasalahan sosial dan ekonomi menjadi pemicu paling utama. Untuk menekan hal tersebut terjadi, seseorang harus memiliki iman dan norma yang baik, " ungkapnya.

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved