Berita Muba

Tambang Batubara Masuk, Kebun Karet di Sanga Desa Muba Berlumpur, Warga Kehilangan Mata Pencaharian

Aktivitas penambangan batubara sebuah perusahaan di Kecamatan Sanga Desa, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan diprotes sejumlah warga, karena dinilai

Penulis: Rustam Imron | Editor: Yandi Triansyah
handout
Pemilik lahan dan pihak perusahaan melihat kondisi sebagian lahan warga yang terendam lumpur dan air akibat galian batubara. 

SRIPOKU.COM, SANGADESA -- Aktivitas penambangan batubara sebuah perusahaan di Kecamatan Sanga Desa, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan diprotes sejumlah warga, karena dinilai merusak lingkungan.

Bahkan, gara-gara galian emas hitam itu, warga pemilik lahan di sekitarnya kehilangan mata pencaharian dari tanam tumbuh di atas lahannya.

"Sejak aksi penambangan itu, kebun karet kami tak bisa lagi disadap. Pihak perusahaan tak mau bertanggung jawab.

Tolonglah Pak Bupati, kami ini rakyat kecil, jangan lagi dibuat susah," ujar Kodir, warga Desa Macang Sakti Kecamatan Sangadesa, yang mengadukan persoalan yang mereka hadapi kepada wartawan, Minggu (12/7/2020).

Telusuri Gang Sempit di Jakabaring, Herman Deru Temui Warga yang Masih Dulang Berkah Ditengah Corona

 

Herman Deru Angkat Promosi Daerah Melalui Olahraga Dayung Perahu Bidar

Diceritakan Kodir, dia bersama sembilan saudaranya merupakan ahli waris dari kebun milik almarhum orangtuanya Anwar Cik Ali seluas kurang lebih 14.375 M2 (115 meter x125 meter).

Di atas lahan itu terdapat tanaman karet, cempedak, jengkol, durian, dan petai.

Lalu masuknya penambangan batubara PT Astaka Dodol, dengan cara pengerukan sejumlah lahan pertambangan.

Ironisnya, bukan hanya menggunakan lahan miliknya, perusahaan juga menggunakan lahan kebun karet milik H Anwar Cik Ali sekitar 5.404 m2.

Andai Borong Semua Penalti, Benzema Bisa Gagalkan Messi Jadi Top Scorer

 

Inilah 7 Pasangan Zodiak Paling Cocok: Aries dan Aquarius Mereka Suka Lakukan Hal-hal Menarik

Padahal lahan tersebut belum diganti rugi.

Setelah operasional penambangan, kebun warga yang berada di sekitar penambangan rusak berat karena berlumpur, sebab seluruh air dan bekas galian mengalir ke kebun rakyat di sebelahnya.

"Pihak perusahaan cuma mau kasih uang Rp 30 juta, tanpa mempedulikan kerugian kondisi kebun yang rusak parah.

Mereka juga tak peduli dengan dampak lingkungan," tambah Kodir.

Pihaknya sudah menyampaikan persoalan tersebut kepada pihak perusahaan dan aparat pemerintahan setempat.
Namun hingga kini belum ada respon positif dan terkesan mendiamkan persoalan tersebut.

PSG Bantai Le Havre 9-0, 5000 Orang Sudah Bisa Nonton Sepak Bola Lagi

 

Kabar Duka, Ayahanda Ivan Gunawan Meninggal Dunia, Igun Minta Jangan Dihubungi


Dikonfirmasi terpisah, Humas PT Astaka Dodol, Heri mengaku adanya persoalan lahan dengan dua warga setempat, yang merupakan ahli waris.

Halaman
12
Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved