Breaking News:

SMA Sederajat Yang Pertama Tatap Muka  

Nadiem: SMA Sederajat Yang Pertama Bisa Gelar Belajar Tatap Muka  

Di tengah keraguan sejumlah sekolah dalam menggelar belajar mengajar dalam ruang kelas, secara bertahap seperti akan dimulai di tingkat SLTA.

Dok/Kemenkeu
ILUSTRASI. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim saat konferensi pers terkait dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di Kementerian Keuangan, Jakarta (10/2/2020).   

SRIPOKU.COM – Di tengah keraguan sejumlah sekolah dalam menggelar kegiatan belajar mengajar dalam ruang kelas, secara bertahap seperti akan dimulai di tingkat SLTA.   

 Penegasan tersebut sebagaimana dilansir KONTAN.CO.ID diungkap­kan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim bahwa, urutan pertama yang boleh menggelar pembelajaran tatap muka adalah pendidikan tingkat atas atau SMA dan sederajat.

Mulai Senin (13/7) pekan depan, tahun ajaran baru mulai bergulir. Tapi, pemerintah hanya mengizinkan pembelajaran tatap muka di zona hijau atau wilayah tanpa kasus virus corona baru.   

Urutan pertama yang boleh melakukan pembelajaran tatap muka adalah pendidikan tingkat atas dan sederajat, berikutnya pendidikan tingkat menengah dan sederajat, lalu tingkat dasar dan sederajat.

Tapi, Nadiem memberikan catatan, pembelajaran tatap muka harus sesuai dengan tahapan waktu yang telah ditentukan.

“Namun, begitu ada penambahan kasus atau level risiko daerah naik, satuan pendidikan wajib ditutup kembali,” katanya saat meninjau persiapan sekolah menuju tatanan kebiasaan baru di SMA Negeri 4 Kota Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (8/7).

Eksperimen menciptakan protokol kesehatan

Menurut Nadiem, sinergi dan gotong royong lintas sektor menjadi faktor utama memastikan pembelajaran pada masa pandemi berjalan sesuai protokol kesehatan.

“Kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarganya, dan masyarakat secara umum merupakan prioritas utama pemerintah,” tegas dia.

Nadiem mengingatkan, masa transisi ini menjadi periode penting untuk menetapkan kebiasaan baru, yakni perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang membutuhkan karakter disiplin, mandiri, dan tenggang rasa.

 “Saya melihat ada berbagai macam tindakan proaktif, bukan hanya pakai masker dan sanitizer. Tetapi, bereksperimentasi menciptakan protokol-protokol kesehatan agar lebih aman di masa transisi ini,” ujarnya.

Pelaksanaan pembelajaran tatap muka satuan pendidikan di zona hijau berdasarkan pertimbangan kemampuan peserta didik dalam menerapkan protokol kesehatan.

Editor: Salman Rasyidin
Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved