Gelar Sosialisasi dengan Protokol Kesehatan, Arniza Tekankan Kearifan Lokal Menjelang New Normal

Ditengah Covid-19, Anggota MPR RI Provinsi Sumsel Arniza Nilawati tetap menggelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan bersama warga Kecamatan Plaju

SRIPOKU.COM/MAYA CITRA ROSA
Ditengah Pandemi Covid-19 ini, Anggota MPR RI Provinsi Sumsel Arniza Nilawati tetap menggelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan bersama warga Kecamatan Plaju Palembang. 

Laporan wartawan Sripoku.com, Maya Citra Rosa

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Ditengah Pandemi Covid-19 ini, Anggota MPR RI Provinsi Sumsel Arniza Nilawati tetap menggelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan bersama warga Kecamatan Plaju Palembang.

Sosialisasi ini menerapkan protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan RI, seperti mengurangi jumlah peserta sebanyak 50 persen, menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan sebelum masuk ke ruangan.

Anggota DPD RI Provinsi Sumsel Arniza Nilawati, yang memberikan materi dalam pelaksanaan sosialisasi tersebut, ia menekankan nilai-nilai kearifan lokal yang harus diperkuat dalam nasionalisme.

Sumsel dengan banyaknya kearifan lokal, tentu harus menyesuaikan kembali dalam masa pandemi Covid-19 dan setelahnya.

Tanpa mengurangi atau meninggalkan nilai-nilai kearifan lokal, bersamaan dengan persiapan akan berlangsungnya new normal life, terutama di Sumsel.

Kapolda Sumsel Tinjau Kesiapan Muba Cegah Karhutbunlah Hingga Tinjau Kampung Tangkal Covid-19

Cerita Kesehariannya Bersama Ketiga Anaknya, Rachmat : Saya Marah Sebatas Orangtua Mendidik Anak

Mengandung Bakteri Berbahaya Jamur Enoki Asal Korsel di Palembang Sudah Lama Kosong

Selain itu, membahas nasionalisme yang menjadi tantangan yang dihadapi saat ini sangat kompleks, yang mana empat pilar kebangsaan yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika menjadi landasannya.

Beberapa hal yang tanpa disadari mulai menjadi permasalahan dalam penguatan nasionalisme tersebut seperti, makin merebaknya fenomena post truth atau opini public dapat dibentuk via hoaks.

Juga local wisdom atau kearifan yang semakin tergerus oleh modernisasi dan globalisasi, gerakan intoleransi dan radikalisme yang mencengkram dunia pendidikan.

"Terutama yang sering terjadi saat ini adalah nilai agama dan budaya yang tidak dijadikan sumber etika," ujarnya dalam pemaparannya di Gedung DPD RI Provinsi Sumsel, Sabtu (27/06/2020).

Halaman
12
Penulis: maya citra rosa
Editor: adi kurniawan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved