Breaking News:

Opini

Kekebalan Suprarasional Manusia Dalam Kehidupan

Melalui pendekatan biokimia, Prof. Dr. Mahmud Abdul Qadir (1979) mengungkapkan, bah­wa dalam tubuh manusia terdapat sembilan jenis kelenjar hormon.

Editor: Salman Rasyidin
Kekebalan Suprarasional Manusia Dalam Kehidupan
ist
Prof. Dr. H.Jalaludin

Besar kecilnya  kadar perubahan itu  tergantung dari kemampuan manusia untuk menyikapi dan  merspons  pengaruh tersebut.

Terjadinya perge­seran dari kondisi normal ke daerah berbahaya, di samping faktor susunan tubuh, juga  kadar ke­imanan, serta  dalam atau dangkalnya rasa dan kesadaran manusia.

Atas dasar  adanya hu­bungan nilai-nilai imani  dengan unsur- unsur kiniawi dalam tubuh  ini, Muhammad Mahmud Abdul Qadir memberi judul bukunya itu dengan biyologiat al- Iman  (Biologi Iman )

Dalam upaya membuktikan tesisnya itu, Prof. Dr.  Muhammad  Mahmud Abdul Qadir meng­gu­na­kan paradigma wahyu.

Dengan merujuk kepada ayat  Al- Qur’an yang mengungkapkan : “Ingatlah wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. 10: 62).

Wali Allah adalah orang  yang memperlindungkan dirinya  kepada Allah. Ma­nusia diperintahkan untuk melakukan hal itu.

Dikemukakan-Nya : “Allah adalah Wali orang yang beriman.” (QS. 2: 257; QS. 3: 68).

 Yakni Pelindung dan Penolong orang-orang yang beriman, dan Allah adalah Wali orang- orang yang bertakwa (QS. 45 : 19) Allah  adalah Wali yang  hakiki. 

Dia yang menguasai dan mengatur  langit dan bumi, serta segenap isinya, meng­hidupkan dan mematikan, menetapkan hukum di dunia dan memberi keputusan akhir di akhirat (Ensiklopedi Islam Al-Qur’an, 1997).

Adapun  seseorang  yang mewalikan diri kepada Allah, tanda-tandanya adalah :

bertakwa kepada Allah (QS. 45: 19);

mengikuti petunjuk Allah (QS. 2: 38);

berserah diri sepe­nuh­nya kepada Allah (QS.2: 112),

menginfakkan harta secara ikhlas di jalan Allah (QS. 2 : 262, 274, 277), beriman.\

Dan Abdul Qadir  dalam kajiannya mencermati hubungan antara Allah dan sta­tus wali Allah dengan kondisi emosi “ rasa takut “ (khauf) dan bersedih  hati ( hazn)  melalui pen­dekatan biokimia.

Hasil kajian ini mengungkapkan, bahwa emosi terkait  dengan  suasana  hati.

Manakala suasana hati seseorang dalam suasana positif, maka kadar hormon adrenalin me­ningkat, dan ia menjadi berani.

Suasana yang demikian ikut memberi pengaruh kepada pem­bentukan kekebalan tubuh.

Secara garis besarnya, kekebalan tubuh dibagi menjadi kekebalan yang bersifat bawaaan  dan kekebalan yang diusahakan.

Kekebalan bawaan yang dimiliki seseorang bersifat herediter (ke­turunan).

Sedangkan kekebalan yang diusahakan umumnya didukung oleh  kebersihan diri dan lingkungan, asupan makanan yang bergizi, hidup sehat, dan olahraga secara teratur.

Se­men­tara, tampaknya kajian Guru Besar ahli fiqh dan ahli biokimia ini berhasil menguak rahasia yang terkandung dalam informasi wahyu.

Upaya penyerahan diri secara ikhlas dengan menempatkan Allah SWT selaku wali ternyata ikut memberi pengaruh positif  terhadap pem­ben­tukan kekebalan diri manusia.

Kekebalan yang  sama sekali berada di luar dan di atas ke­mampuan jangkauan rasio manusia, secerdaas apapun.

Kekebalan  melalui proses yang   se­pe­­nuhnya merupakan anugerah langsung dari Allah SWT sebagai Sang Maha  Pencipta.

Pem­­buktian ini tampaknya  sama sekali belum tersentuh  dan mustahil dapat terungkap oleh ka­ji­an ilmu pengetahuan yang berparadigmakan filsafat.

Manakala direnungkan secara cermat, jujur, dan bijaksana hasil  kajian ini memberi wawasan baru bagi kaum Muslimin. 

Paling tidak dalam situasi di mana masyarakat dunia dihadapkan de­ngan  musibah Covid-19  sejak beberapa bulan lalu.

Dengan  keyakinan dan keimanan  ter­hadap adanya kekebalan suprarasional ini, kiranya dapat menyadarkan kaum Muslimin, bahwa Kemahakuasaan Allah SWT berada di puncak  tertinggi, dan dijamin mampu me­ng­atasi segala sesuatu.

Dengan “mewalikan diri“ hanya kepada Allah SWT secara ikhlas, me­lalui gerakan massal secara serentak mudah-mudahan Allah SWT akan membekali kaum Mus­limin dengan “kekebalan suprarasional“ dimaksud.

Semoga  dengan kekebalan ini  ka­um Muslimin mampu mengatasi menurunkan daya sebar wabah Covid-19 ini.

Dengan ber­be­kalkan kekebalan tubuh suprarasional yang prima,  bukan mustahil pula Allah SWT  ber­ke­nan menuntaskan kasus ini secara menyeluruh.

Mudah-mudahan dengan kondisi  yang  de­mi­­kian itu, kaum Muslimin dapat kembali memakmurkan  masjid sebagai rumah Allah  de­ng­an melaksanakan kembali kewajiban shalat Juma’at yang sempat tertunda oleh berbagai him­ba­uan.  Amin, ya Rabb al–Alamin

    

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved