Opini

Kebutuhan Mutlak  “Fire Fighter” Untuk Penanggulangan Karhutla

Cuaca panas dan kering yang dikombinasikan dengan kekeringan dan angin kencang men­­ciptakan kondisi sempurna untuk api menyebar dengan cepat.

SRIPOKU.COM/REIGAN P
ILUSTRASI--Personil BPBD bersama Satgas Anti Karhutla lainnya berjibaku memadamkan api di wilayah Kabupaten PALI. 

Oleh : Antoni Anwar

Praktisi Fire Fighter Di Palembang

Cuaca panas dan kering yang dikombinasikan dengan kekeringan dan angin kencang men­­ciptakan kondisi sempurna untuk api menyebar dengan cepat.

Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) merupakan bencana yang sangat menyisakan kisah panjang dari ber­­bagai sendi kehidupan, tak hanya meninggalkan kesan namun ini juga mening­gal­kan ba­nyak hal–hal yang berharga yang dapat kita petik untuk pelajari.

Dari keja­di­an–­ke­jadian kebakaran pada tahun-tahun sebelumnya dapat dijadikan salah satu data da­­sar un­tuk membuat koreksi terhadap rencana Pencegahan kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2020.

Kita tahu bahwa saat sekarang pada 3 (Tiga) bulan terakhir ini dimana dunia, pada khu­sus­nya Indonesia tengah mengahadapi bencana kesehatan yaitu Virus Corona (Co­vid-19) yang ditetapkan oleh WHO sebagai pandemic global.

Dimana pada saat seka­rang semua elemen tengah terfokus pada wabah ini bagaimana penangan dan pen­ce­gahannya, sebagaimana kita ketahui Bersama bahwa untuk obat dan kapan wabah ini berakhir belum ada kepastiannya sampai saat sekarang ini.

Ilustrasi--Api berkobar dari kebakaran lahan gambut  di Kabupaten Pelalawan dan Siak Riau
Ilustrasi--Api berkobar dari kebakaran lahan gambut di Kabupaten Pelalawan dan Siak Riau (ANTARA FOTO/FB Anggoro/foc)

Jika diamati dan dipantau situasi yang terjadi di Unit Usaha yang mengalami terjadi ke­ba­karan Hutan dan Lahan ditarik kesimpulan bahwa ada beberapa kategori upaya –u­pa­ya yang dilakukan Unit Usaha untuk mengurangi terjadinya kebakaran lahan di tem­pat usaha masing-masing berdasarkan sikap evaluasi dan ketaatan terhadap regu­lasi yang ada.

Yang pertama adalah Unit Usaha yang menyikapi bahwa ini adalah tantangan bagi unit usaha itu untuk bergerak lebih maju sehingga mereka melakukan perbaikan perbaikan se­cara menyeluruh dengan mengikuti ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku bahkan melebihi regulasi tersebut.

Yang kedua adalah Unit usaha yang apa­tis dan merasa ini bukanlah hal yang permanen yang akan terjadi pada unit usaha ter­sebut, dan yang terakhir dalah Unit Usaha yang mencoba melakukan manu­ver­—ma­­nu­­ver perbaikan yang sifatnya hanya melengkapi ataupun sekedar memenuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Halaman
1234
Editor: Salman Rasyidin
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved