Human Interest Story

Kisah di Balik Perang Lawan Covid-19 di Wuhan, Tutupi Fakta hingga Pemecatan Pejabat

Komisi Kesehatan Nasional China (NHC) melaporkan lebih dari 82 ribu kasus Covid-19 dan 4.633 kematian.

Editor: Soegeng Haryadi
CHINADAILY/Ke Hao
Pelajar tingkat lanjutan atas ( SLTA ) di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China, kembali ke sekolah hari Rabu (6/5/2020). Lebih dari 50 ribu siswa sudah kembali menjalani proses belajar. 

Otoritas kesehatan di Wuhan juga menyebut wabah itu dapat dicegah dan dikendalikan. Sebagai anggota tim ahli yang dikirim NHC untuk menyelidiki wabah awal, Zhong mengunjungi Wuhan pada 18 Januari.

Dia mengatakan banyak mendapat telepon dari dokter dan mantan mahasiswa, memperingatkan situasinya jauh lebih buruk daripada laporan resmi.

“Pemerintah setempat, mereka tidak suka mengatakan yang sebenarnya pada waktu itu. Pada awalnya mereka diam, dan kemudian saya berkata mungkin kita memiliki (lebih banyak) orang yang terinfeksi,” kenang Zhong.

Pejabat dipecat
Ia curiga ketika jumlah kasus yang dilaporkan secara resmi di Wuhan tetap pada angka 41 selama lebih dari 10 hari. Padahal saat itu infeksi Covid-19 sudah muncul di luar China.

“Saya tidak percaya hasil itu, jadi saya (terus) bertanya. Saya minta mereka memberi saya angka sebenarnya. Kurasa mereka sangat enggan menjawab pertanyaanku.”

Kematian Akibat Virus Corona  di Wuhan Naik 50%! Setelah Lockdown Dibuka

Di Beijing dua hari kemudian, pada 20 Januari, ia diberi tahu jumlah kasus di Wuhan menjadi 198, tiga orang meninggal, dan 13 pekerja medis terinfeksi.

Dalam pertemuan dengan pejabat pemerintah pusat, termasuk Perdana Menteri China Li Keqiang, pada hari yang sama, ia mengusulkan lockdown di Wuhan untuk membendung penyebaran virus.

Langkah itu belum pernah terjadi sebelumnya. Pemerintah pusat melakukan karantina wilayah di Wuhan pada 23 Januari, kemudian membatalkan semua penerbangan, kereta api dan bus , serta memblokir pintu masuk jalan raya utama.

Dalam sebuah wawancara dengan CCTV pada 27 Januari, Wali Kota Wuhan Zhou Xianwang mengakui pemerintahnya tidak mengungkapkan informasi tentang virus corona kepada publik secara tepat waktu.

“Sebagai pemerintah daerah, kami hanya dapat mengungkapkan informasi setelah diberi wewenang,” katanya.

Pada Februari, China memecat beberapa pejabat senior di tengah kritik yang meluas terhadap penanganan wabah oleh pemerintah setempat.

Mereka yang dipecat termasuk dua pejabat yang bertanggung jawab atas Komisi Kesehatan Provinsi, serta Ketua Partai Komunis China di Wuhan dan Provinsi Hubei, menurut Kantor Berita Xinhua.

Meski mengakui adanya upaya menutupi kondisi sebenarnya di masa awal wabah, Zhong menolak tuduhan statistik resmi China tidak dapat diandalkan. Presiden AS Donald Trump telah secara terbuka mempertanyakan akurasi angka kematian China.

Tetapi Zhong mengatakan pemerintah Cina telah belajar dari kasus SARS 17 tahun alu, ketika menutupi fakta selama dua atau tiga bulan.

Halaman
123
Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved