Berita Palembang

Suhu Siang Hari di Kota Palembang Panas 'Bedengkang' dan Terasa Gerah, Ini Penjelasan BMKG

Bulan lalu BMKG Sumsel sudah mengingatkan bahwa akan terjadi musim peralihan di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).

SRIPOKU.COM/IGUN BAGUS SAPUTRA
Ilustrasi: Seorang warga melintas di atas jembatan Ampera dengan memakai payung, Minggu (1/6). Memasuki musim kemarau suhu cuaca di kota Palembang mulai panas. 

Laporan wartawan Sripoku.com, Maya Citra Rosa

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Beberapa hari belakangan masyarakat Kota Palembang mengeluhkan panasnya suhu siang hari dan suasana yang cenderung gerah.

Bulan lalu BMKG Sumsel sudah mengingatkan bahwa akan terjadi musim peralihan di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).

Hal ini mengakibatkan perbedaan suhu yang signifikan akibat pemanasan matahari di atas Ekuator.

Menurut Kasi Observasi dan Informasi BMKG Sumsel, Bambang, sejak 25 Maret yang lalu, perbedaan suhu siang hari dan perbedaan karakteristik antara permukaan yang tertutup atau aspal, bangunan dan sebagainya dengan permukaan terbuka seperti tanah, rawa dan lainnya.

BREAKING NEWS : Mantan Bupati Muba Pahri Azhari Meninggal Dunia

 

"Menyebabkan perbedaan tekanan dan suhu di permukaan yang apabila terjadi hujan pada siang-sore hari dapat berpotensi disertai Angin Kencang," ujarnya.

Sedangkan pertumbuhan awan hujan yang relatif rendah pada daerah dataran tinggi di Sumsel bagian Barat dan berpotensi peningkatan intensitas petir.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Pusat, Herizal, menjelaskan bahwa salah satu penyebab hari yang semakin terik pada siang hari salah satunya karena suasana terik umumnya disebabkan oleh suhu udara yang tinggi dan disertai oleh kelembapan udara yang rendah.

Terutama terjadi pada kondisi langit cerah dan kurangnya awan sehingga pancaran sinar matahari langsung lebih banyak diteruskan ke permukaan bumi.

Selain itu, tren pemanasan suhu udara permukaan juga diikuti oleh tren pemanasan di lautan.

Secara umum, suhu permukaan laut 5 tahun terhangat secara global terpantau terjadi dalam periode 6 tahun terakhir.

Penelitian oleh Cheng et al yang terbit di Jurnal Advances in Atmospheric Sciences pada Januari 2020,  menemukan kenaikan suhu rata-rata permukaan laut global pada tahun 2019 adalah 0,075°C di atas rata-rata klimatologis 1981-2019.

"Hal serupa juga diindikasikan oleh suhu permukaan laut di perairan Indonesia," ujarnya dalam rilis BMKG, Rabu (22/04/2020).

Pengkajian BMKG menemukan suhu permukaan laut di Laut Jawa dan Samudera Hindia barat Sumatera juga terus menghangat dengan kenaikan sekitar 0,5°C sejak tahun 1970-an, sedikit lebih rendah daripada tren rata-rata global.

Suhu permukaan laut di perairan Indonesia secara umum agak mendingin pada tahun 2019 lalu disebabkan pengaruh fenomena Dipole Mode Positif Samudera Hindia yang kuat dan El Nino kategori lemah.

Dapat disimpulkan, menurut analisis BMKG sejak 1866 perubahan iklim terjadi pula di wilayah Indonesia,  ditandai dengan adanya kenaikan suhu yg mencapai 2,12° C dalam periode 100 tahun.

Serta makin meningkatnya frekuensi kejadian dan intensitas  curah hujan ektsrem dalam 30 tahun terakhir ini.

Semakin menghangatnya suhu muka air laut yang dapat memicu makin sering atau semakin menguatnya kejadian badai tropis di wilayah selatan Indonesia (Samudera Hindia) atau di wilayah utara Indonesia (Samudera Pasifik bagian barat).

"Fenomena ini merupakan indikasi dari proses perubahan iklim yang sedang terjadi dan perlu untuk lebih diantisipasi ataupun dimitigasi," ujarnya.

Mengingat peningkatan frekuensi dan intensitas kejadian ekstrem dapat  menimbulkan dampak makin parah dalam kehidupan manusia.

dampaknya antara lain makin seringnya terjadi bencana hidrometeorologi, baik berupa banjir, banjir bandang, longsor, kekeringan dan meningkatnya tingkat kemudahan lahan dan hutan untuk terbakar.

Namun fenomena suhu udara tinggi yg terjadi saat ini tampaknya lebih dikontrol oleh pengaruh posisi gerak semu matahari dan mulai bertiupnya angin monsun kering dari benua Autralia.

Berdampak pada kurangnya tutupan awan di atas wilayah Indonesia, sehingga sinar matahari langsung mencapai permukaan bumi tanpa adanya penghalang awan.

Penulis: maya citra rosa
Editor: Sudarwan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved