Apakah Mencium atau Memeluk Istri Membatalkan Puasa di Bulan Ramadhan? Berikut Penjelasannya

Sebab, bagaimana pun puasa bukan sekadar meninggalkan makan serta minum, tetapi juga meninggalkan syahwat dan godaan lainnya:

Istimewa
Apakah Mencium atau Memeluk Istri Membatalkan Puasa di Bulan Ramadhan? Berikut Penjelasannya 

SRIPOKU.COM-Bulan Ramadhan jatuh pada tanggal 23 April merupakan bulan paling di tunggu umat Muslim, karena di bulan ini umat Muslim diwajibkan Puasa untuk mendapatkan amal ibadah dan ampunan.

Sebab, Puasa di Bulan Ramadhan tidak hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan hal-hal yang dapat membatalkan puasa seperti diantaranya menahan hawa nasfu.

Dalam aturan Puasa sebenarnya banyak hal yang dianggap sebagai pembatal puasa, termasuk ketika melakukan hubungan suami istri atau hal-hal yang memancing nafsu syahwat dan membatlkan Puasa.

Namun, ada pertanyaan yang menggelitik dari beberapa orang dan selalu muncul tiap kali bulan Ramadhan tiba yakni, bolehkan mencium atau mencumbu istri ketika di bulan puasa, mengingat suami istri yang bersenggama di bulan Ramadhan akan dikenakan hukuman puasa kifarat (nanti akan ada tulisan terkait puasa Kifarat).

Meski banyak yang memandang bahwa lebih baik tidak dilakukan, karena bisa membatalkan Puasa, namun sesungguhnya ada beberapa keterangan terkait boleh atau tidaknya menyentuh, mencium atau mencumbu istri di bulan Ramadhan?

Seperti dilansir dari kitab Fatawa Ramadan-cetakan pertama, penerbit Adhwaa As-salaf, yang merupakan kumpulan fatwa para ulama seperti Asy-Syaikh Ibnu Baz, Asy-Syaikh Al-Utsaimin, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, dan lain-lainnya.

Disebutkan pada saat Puasa, sejak terbit fajar hingga tenggelam matahari, umat Islam tidak hanya menahan diri dari nafsu makan dan minum. Juga diminta tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, termasuk berhubungan suami-istri.

Lantas bagaimana dengan bermesraan bagi pasangan yang sudah resmi saat sedang menjalankan ibadah Puasa di bulan Ramadan?

Dalam sebuah riwayat, dijelaskan tentang diperbolehkannya seseorang yang sedang berpuasa untuk mencium istri sahnya, tetapi syarat tidak menimbulkan syahwat nafsu.

اِنْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيُقَبِّلُ بَعْضَ اَزْوَاجِهِ وَهُوَ صَائِمٌ ثُمَّ ضَحِكَتْ Artinya:

Halaman
123
Editor: Hendra Kusuma
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved