Berita Sriwijaya FC
Nasib Pemain Pasca Terhentinya Kompetisi, Ini Kata Pengamat Buyung Ismu
Dihentikannya kompetisi Liga 1 Indonesia dan Liga 2 Indonesia di tanah air karena wabah Virus Corona atau Covid-19 berimbas pada penghasilan para
Penulis: Abdul Hafiz | Editor: adi kurniawan
Laporan wartawan Sripoku.com, Abdul Hafiz
SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Dihentikannya kompetisi Liga 1 Indonesia dan Liga 2 Indonesia di tanah air karena wabah Virus Corona atau Covid-19 berimbas pada penghasilan para pemain klub.
Bahkan prediksi PSSI kompetisi belum juga dapat kembali digelar pada 1 Juli 2020, hal ini tentunya akan semakin berdampak pada nasib para pemain.
Berkaca dari profesi lain, pekerjanya di-PHK lantaran tempat bekerjanya tidak bisa lagi memberikan upah.
"Belum sampai ke situ. Kita masih optimis akan digelar setelah tanggal 1 Juli sesuai surat PSSI yag terakhir. Manajemen belum mengkaji sampai ke situ," ungkap Sekretaris PT Sriwijaya Optimis Mandiri (SOM) selaku manajemen klub Sriwijaya FC, Faisal Mursyid SH, Jumat (17/4/2020).
• Video : Ditreskrimum Polda Sumsel Amankan Dua Pelaku Pencurian Mesin Padi
• Walikota Prabumulih Kirim Surat ke Presiden Minta Keringanan Pembayaran Gas Kota Bagi Warganya
• Isi Kegiatan di Rumah Selama Pandemi Covid-19, Finalis Kategori Lingkungan Ini Buat Pupuk Kompos
Sementara Pengamat sepak bola Buyung Ismu melihat pemain sepakbola profesional dinilai masih mampu menghadapi bencana yang menyebabkan diistirahatkan kompetisi.
"Maaf sebelumnya, bagi saya sangat sulit menyikapi masalah ini.
Tapi bagi saya pemain profesional itu penghasilannya tidak sedikit, penghasilan mereka pertahun untuk liga 1 saja yg paling murah Rp 800 jutaan per tahun, kalo dibandingkan dengan pekerja lain penghasilan mereka jauh lebih besar, pasti mereka juga punya tabungan, kalo istirahat 2 atau 3 bulan saya rasa mereka masih mampu," kata Buyung Ismu.
Bahkan kalaupun bulan Juli 2020 juga masih tetap juga belum kembali dilanjutkan kompetisi Kiga 1 dan Liga 2, menurutnya para pemain masih mampu bertahan.
"Saya rasa juga masih mampu," kata Pelatih PSAD.
Justru mantan Pelatih PS Semen Padang ini, lebih prihatin melihat profesi seperti pemain musik dan penyanyi kelas organ tunggal dan pemusik cafe dan penyanyi cafe, mereka distop semua.
"Kalo saya rasa, dengan stopnya liga pasti semua dirugikan, tapi dengan wabah ini kita juga harus lebih arif dalam menyikapinya. imbasnya bukan hanya di liga 1, 2 saja coba lihat imbas dari pelatih yang di bawahnya yang hanya bergaji kurang dari Rp 3 juta per bulan. Lebih sedih lagi, tapi apa boleh buat memang situasinya seperti ini," pungkas mantan pemain Timnas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/buyung-ismu.jpg)