Jalan Ini Jadi Solusi Para Pemain Persita Tanggerang Saat Gajinya Dipotong 90 Persen

Penundaan Shopee Liga 1 2020 akibat Virus Corona memberikan dampak yang sangat besar bagi kondisi finansial Persita Tangerang.

Editor: adi kurniawan
sri
Pemain SriwijayaFC saat menghadapi permainan Persita Tangerang 

SRIPOKU.COM -- Penundaan Shopee Liga 1 2020 akibat Virus Corona memberikan dampak yang sangat besar bagi kondisi finansial Persita Tangerang.

Para pemain Persita Tangerang terpaksa membongkar tabungan pribadinya karena gajinya dipotong hingga 90 persen akibat Virus Corona.

Tim yang baru promosi ke Shopee Liga 1 2020 itu terpaksa memotong gaji pemainnya hingga mencapai 90 persen.

Hal itu tentu lebih besar dari anjuran PSSI yang memperbolehkan memotong gaji pemain hingga Juni 2020 sebesar 75 persen.

Kasus Corona Tembus 2.092, Jubir Jokowi Mulai Khawatir Warga Golongan Ini Terus Tularkan Covid-19

Anang Hermansyah Suami Ashanty Rumahkan 200 Karyawannya, Kerajaan Bisnisnya Terdampak Virus Corona

Dinyatakan Positif Virus Corona Pasca Rapid Test, Asisten Pelatih Timnas Indonesia Diisolasi di RS

Pemotongan gaji yang sangat besar juga memaksa para pemain Persita Tangerang mencari akal untuk menutup pengeluaran sehari-hari.

Beberapa pemain terpaksa membongkar tabungan pribadinya untuk membiayai kebutuhan sehari-hari dan bertahan hidup

"Pastinya pemasukan tidak ada. Saya mengandalkan tabungan saja dan berharap wabah ini segera berlalu dan semua kembali normal," kata penyerang Persita, Aldy Al Achya, dikutip Bolasport.com dari Warta Kota.

"Sekarang kan situasinya kurang baik. Saya serta keluarga juga harus tetap di rumah saja sesuai dengan anjuran pemerintah," ujarnya menambahkan.

Senada dengan Aldy, gelandang Pendekar Cisadane, Redi Rusmawan, juga harus menggunakan tabungannya untuk menutup pengeluaran selama jeda kompetisi.

Pemain asal Bogor itu hanya bisa pasrah dengan kondisi yang dialaminya saat ini akibat penyebaran Virus Corona.

"Saya hanya berserah saja. Sekarang memang tidak bisa bekerja. Usaha lain pun terpaksa ditutup," ujar Redi.

Redi sepenuhnya menyadari bahwa para pemain dan ofisial tim tidak bisa serta merta menuntut manajemen membayarkan gaji secara penuh sesuai dengan kontrak.

Gelandan Persita Tangerang, Redi Rusmawan (kiri), sedang berbincang dengan Raphael Maitimo.
Sebab, hal itu dapat merugikan keuangan tim dan bisa saja membuat Persita Tangerang menjadi bangkrut.

Oleh sebab itu, Redi memilih untuk menerima keputusan timnya meski terasa sangat berat.

"Bila klub membayar secara normal sedangkan kami tidak kerja di lapangan, maka klub bisa merugi," katanya menandaskan.

Selain Persita Tangerang, Arema FC dan Cilegon United juga mengalami permasalahan finansial dalam masa jeda kompetisi saat ini.

Bahkan, pemilik Arema FC terpaksa mengeluarkan dana sebesar Rp 2,3 miliar dari tabungan pribadinya untuk membayar gaji pemain dan ofisial tim.

Sumber: BolaSport.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved