Wawancara Eksklusif

Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam Bicara Soal Lockdown: Ibu Kota Karantina Dulu

Close contact, jarak dekat, misal ke mall, megang tangan ini ke mana-mana, yang memungkinkan untuk jadi media penularan.

TRIBUNNEWS
Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam 

Dr. dr. Ari Fahrial Syam, dokter spesialis penyakit dalam Gastroenterologi-Hepatologi menyarankan agar Pemerintah Pusat segera mengambil langkah tegas dalam menanggulangi penularan virus corona (Covid-19). Salah satunya yakni dengan memberlakukan kebijakan karantina wilayah di pusat persebaran pandemi tersebut, yakni kota DKI Jakarta. Berikut petikan wawancara lengkap Tribun dengan dr. Ari Fahrial Syam.

Pandangan FKUI soal imbauan untuk lockdown episentrum virus corona, Jakarta?
Jadi pertama mesti saya sampaikan bahwa sejak awal kalau bicara soal virus Corona dan gagasan lockdown atau karantina, FKUI, karena memang kami ini memiliki tinjauan akademik.
Kemudian dari tinjauan ini kami melakukan dan melihat bagaimana proses sebaran yang terjadi di sana, Wuhan, kita pelajari semua evident base medicine sebelum kasus itu masuk ke Indonesia.
Setelah itu kami lakukan sosialisasi dan mengundang pakar virus dan ahli paru dan kami juga terlibat dalam berbagai hal seperti terlibat dalam Gugus Percepatan Penanganan covid, sampai akhirnya kami pun melihat bahwa Jakarta sudah menjadi episentrum.

Apa yang menjadi dasar kekhawatiran sehingga himbauan untuk lockdown harus disampaikan?
Artinya bahwa masukan dari kami selalu berjalan dan juga teman-teman guru besar FKUI ini melakukan evaluasi, khususnya ketika melihat tampaknya himbauan presiden mengenai belajar dari rumah, bekerja dari rumah, belum benar-benar dilakukan secara tertib oleh masyarakat.
Pertama angka kasus semakin meningkat. Kita sudah tembus angka psikologis di atas seribu, angka kematian kita juga sudah di atas seratus. Kalau kita hitung-hitung persentase ini 8 persen.

Berarti imbauan bekerja dan belajar dari rumah tidak benar-benar diterapkan?
Imbauan presiden itu tanda petik, masyarakat kurang mendengar imbauan presiden. Ketika kasus itu masih ada dan terus meningkat, apalagi meningkatnya setiap hari ini seratus-seratus, artinya apa? Bahwa proses penularan itu masih terjadi di masyarakat.
Oleh karena itu timbul pemikiran dari guru besar itu tadi, apapun namanya yang penting benar-benar dilakukan karantina di wilayah utama, atau pusat sebaran covid ini.

Harapan dari diberlakukan karantina itu sendiri apa sebenarnya?
Kita berharap masyarakat ini stay at home, mengurangi aktivitas di luar. Karena ketika masyarakat ada di luar, terjadi potensi untuk penularan. Close contact, jarak dekat, misal ke mall, megang tangan ini ke mana-mana, yang memungkinkan untuk jadi media penularan.
Karena itu, lingkup gerak masyarakat harus dibatasi sementara ini. Karena kasus ini akan terus bertambah apabila masyarakat tetap leluasa, dan penularan terjadi jika interaksi antar masyarakat itu masih sangat tinggi. Itu saja intinya.

Apakah karantina wilayah juga perlu dilakukan di seluruh Indonesia?
Karantina wilayah khususnya utk DKI karena jadi episentrum utk Indonesia. Selanjutnya (wilayah lain) lihat keadaan.

Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved