Wawancara Eksklusif

Cerita Dokter Budi Sylvana di Balik Evakuasi WNI dari Wuhan (1): Wuhan Seperti Kota Zombie

Meski tak ke luar dari area bandara, Budi mengibaratkan Kota Wuhan seperti tak ada kehidupan.

DOK. SRIPO
Wuhan Seperti Kota Zombie 

Kepala Pusat Krisis Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dokter Budi Sylvana menceritakan bagaimana di balik evakuasi dan observasi 238 Warga Negara Indonesia (WNI) dari Wuhan, China. Semuanya serba cepat. Dari awal diinstruksikan melakukan evakuasi dan observasi,1x24 jam. Setelah itu, ia berangkat ke Kota Wuhan, menjemput 238 WNI.

Ia menggambarkan bagaimana suasana di Wuhan. Meski tak ke luar dari area bandara, Budi mengibaratkan Kota Wuhan seperti tak ada kehidupan. Sunyi, senyap, “Seperti kota zombie,” ujarnya saat diwawancarai khusus dengan Tribun, Selasa (18/2).

Budi sempat takut, namun tugas dan pengabdian baginya. Pria berusia 55 tahun ini juga sempat tak bilang kepada keluarganya, bahwa ia akan berangkat ke Wuhan, melakukan observasi di Natuna.  ”Orang tua saya tahunya dari televisi,” ceritanya.

Selama kurang lebih 14 hari Budi juga ikut melakukan observasi di Natuna setelah berhasil sukses melakukan evakuasi dari Kota Wuhan, China. Banyak cerita bagaimana para WNI curhat kepadanya. Akan ketakutan dianggap ‘virus’ oleh masyarakat, hingga perasaan takut akan penolakan yang sempat terjadi di sekitar Natuna. Budi menceritakan itu semua kepada Tribun Network. Berikut petikan wawancara lengkap:

Awal mula terinspirasi nge-vlog di Natuna seperti apa?
Video audio visual kayaknya bagus. Walaupun singkat-singkat. Itu vlog pertama saya. Belum pernah saya vlog. Makanya ngomongnya belepotan, gambarnya miring-miring. Saya bersalah kalau tidak memberitakan itu ke luar karena saya yang ditugaskan dari Kemenkes di sana.
Kalau saya tidak menginformasikan, siapa lagi yang menginformasikan. Media tidak masuk ke ring 1. Sementara aktivitas di sana banyak, saya melakukan aktivitas rutin baru saya nge-vlog. Itu pertama kali, dan belum sama sekali seumur-seumur.

Apa sebenarnya yang mendorong Anda?
Sebenarnya netizen. Karena ada penghakiman di luar, terutama netizen terhadap mereka. Jadi saya tidak meng-counter lewat tulisan, jadi saya ingin menunjukan. Ini loh, keadaan sebenarnya. Itu dasarnya. Sementara mereka (yang diobservasi) tidak berhubungan dengan media. Mereka takut wajahnya tampil, lalu penduduk di sekitar rumahnya menolak mereka. Itu alasannya. Bukan anti media, tetapi khawatir.

Awal Anda mendapat tugas melakukan observasi di Natuna?
Semua serba cepat. Saya menerima perintah itu 24 jam sudah harus berangkat. Awalnya perintah dari Menteri Kesehatan untuk berangkat melakukan evakuasi dan observasi. Ada perintah,tim bekerja. Ada tim yang bekerja menyiapkan skenario dan disesuaikan dengan protocol WHO.
Ada tim yang menyiapkan logistik, termasuk APD, semuanya. Terus ada tim yang menyiapkan observasi, itu bahkan dipimpin langsung oleh Pak Menteri.
Ada tim yang menyiapkan dukungan psychosocial, tim yang menyiapkan bantuan ke Tiongkok.Disiapkan selama 24 jam. 1x24 jam diperintahkan evakuasi, langsung kita persiapkan semuanya,serba cepat.

Jumlah tim ke Wuhan itu berapa? Dan tim observasi?
42 orang yang ke Wuhan. Observasi tim gabungan, dari TNI yang memimpin. Kalau tidak salah ada sekitar 800 orang, termasuk tim pengamanan di Bandar Udara.

Bagaimana tanggapan keluarga, termasuk istri dan anak ketika Anda dimintai untuk bertugas di Natuna?
Mereka ketawa-ketawa terutama orang tua saya. Karena saya tidak menginformasikan berangkat ke Natuna. Telepon saya sambil ketawa-ketawa, “He-he tidak lapor ya,”. Tapi mereka senang dan bangga, kalaupun harus..ya kalau takut pasti ya. Sambil tidur pun kita bisa meninggal. Ya ini tugas dan pengabdian jadi satu.

Apa suka duka selama observasi dan evakuasi ke Wuhan?
Awalnya ketakutan pasti. Karena harus ke Wuhan, yang merupakan epicentrum outbreak. Dan kita harus datang ke pusatnya wabah. Saya yakin semuanya ketakutan. Tapi kita ke sana tidak konyol gitu. Preparedness-nya kita siapkan dengan baik, skenario sudah disiapkan. (tribun network/denis/genik)

Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved