AKHIR Realita Pahit Guru Honorer di Indonesia, Mendikbud Nadiem Makarim Siapkan Hadiah Untuk Mereka

AKHIR Realita Pahit Guru Honorer di Indonesia, Mendikbud Nadiem Makarim Siapkan Hadiah Untuk Mereka

AKHIR Realita Pahit Guru Honorer di Indonesia, Mendikbud Nadiem Makarim Siapkan Hadiah Untuk Mereka
Instagram/@kaligrafi_danishabby
PNS 

"SMK akan tetap sama karena tahun lalu telah dinaikkan dari Rp 1,4 juta menjadi Rp 1,6 juta dan untuk Pendidikan Khusus akan tetap sama Rp 2 juta per siswa," jelas dia.

3. 50 persen dana BOS untuk guru honorer

Nadiem pun mengatakan, alokasi penggunaan dana BOS untuk guru honorer oleh sekolah dilonggarkan hingga 50 persen.

Sebelumnya batasan dari dana BOS untuk guru honorer adalah 15 persen untuk sekolah negeri dan 30 persen untuk sekolah swasta.

Hal tersebut, menurut dia merupakan salah satu langkah kementeriannya untuk menyejahterakan guru honorer.

“Kalau guru-guru stres dan kesulitan bahkan untuk memenuhi kebutuhannya, transportasi, dan makan, maka tidak akan terjadi peningkatan kualitas pembelajaran. Apalagi di daerah tertinggal dan miskin di mana mayoritas gurunya adalah honorer,” ujar dia.

Nadiem juga memberikan otonomi kepada kepala sekolah untuk mengelola uang tersebut.

"Untuk 2020 hanya ada 1, limit yaitu itu maksimal 50 persen dari dana bos itulah maksimal 50 persen yang boleh digunakan untuk pembiayaan guru honorer. Ini adalah langkah pertama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, untuk membantu menyejahterakan guru honorer yang memang layak mendapatkan upah lebih layak, yang berkinerja dengan baik," ucap Nadiem.

4. Bisa dorong pertumbuhan ekonomi?

Sri Mulyani mengatakan, dengan perubahan skema penyaluran dana BOS, diharapkan bisa memberikan efek pendorong terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Khususnya pada tingkat konsumsi rumah tangga.

"Kita berharap dengan jumlah lebih banyak akan berikan daya ungkit ke perekonomian. Kalau seberapa besar dampak, kita harus lihat dulu karena dari sisi GDP untuk konsumsi terutama tumbuh di bawah 5 persen jadi perhatian," kata Sri Mulyani.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi tercatat 5,02 persen sepanjang 2019, lebih rendah dibandingkan 2018 sebesar 5,17 persen.

Adapun untuk konsumsi rumah tangga di di kuartal IV hanya tumbuh 4,97 persen. Padahal kuartal IV tahun lalu tumbuh 5,06 persen.

Sri Mulyani mengatakan, langkah lain yang dilakukan pemerintah untuk mendorong kinerja perekonomian adalah peningkatan besaran dana program keluarga harapan (PKH) yang ditingkatkan, lalu penyaluran dana desa yang skemanya menjadi lebih besar di tahap pertama.

"Tujuannya, pada kuartal 1 ini terjadi peningkatan dari belanja negara dalam rangka mengimbangi efek seasonal yang kuartal 1 masih lamban. Ini juga memeratakan antar kuartal," jelasnya.

Pada kuartal selanjutnya, Sri Mulyani bilang perekonomian nasional akan didorong oleh kegiatan saat puasa dan Lebaran. Lalu pada kuartal III akan ada dorongan konsumsi dari penerimaan siswa/siswi di tahun ajaran baru.

"Kuartal kedua ada puasa dan Idul Fitri, kuartal ketiga penerimaan sekolah baru dan kita akan lihat supaya lebih merata," ungkap dia.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Episode 3 Merdeka Belajar ala Nadiem Makarim: Rombak Skema Dana BOS", https://money.kompas.com/read/2020/02/11/104300426/episode-3-merdeka-belajar-ala-nadiem-makarim--rombak-skema-dana-bos?page=all.
Penulis : Mutia Fauzia
Editor : Sakina Rakhma Diah Setiawan

Editor: Fadhila Rahma
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved