Breaking News:

30 Tahun Ini Warga 22 Desa di Tulung Selapan Ramai-ramai Merantau ke OKI Nambang Timah

Sekitar 30 tahun belakangan banyak warga dari 22 Desa di Kecamatan Tulung Selapan yang mencoba mencari nafkah di Provinsi Bangka.

Editor: Refly Permana
dok.sat pol pp bangka.
Petugas Satpol PP Bangka dan Polsek Riausilip membongkar sakan di lokasi tambang ilegal pinggir jalan Desa Mapur Kecamatan Riausilip Bangka, Rabu (13/11/2019) 

SRIPOKU.COM, KAYUAGUNG - Masyarakat 22 desa di Kecamatan Tulung Selapan, OKI sudah sering merantau ke Bangka. Alasannya tak lain karena harga karet yang semakin anjlok sehingga mereka memilih beralih profesi menjadi penambang di Bangka.

Letak geografis yang jauh dari ibu kota provinsi Sumatera Selatan, serta akses transportasi jalur darat yang sulit dilalui membuat warga Kecamatan Tulung Selapan memilih merantau ke wilayah lain.

Pempek Palembang Ternyata Beda dengan Pempek Jambi dan Bangka, Ini Resep dan Cara Pembuatannya!

Jika melihat peta, Kecamatan Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir yang berada di pinggiran atau di ujung Provinsi Sumatera Selatan ini memang berbatasan langsung dengan Provinsi Bangka. Akses ke Provinsi Bangka ini pun lebih mudah, warga biasa menuju ke Bangka memakai perahu (Speedboat) yang hanya memakan waktu sekitar kurang lebih 2 jam.

Sejak dulu memang banyak masyarakat Kabupaten OKI seperti warga Kecamatan Air Sugihan, dan Tulung Selapan yang merantau ke Bangka untuk bekerja sebagai penambang timah.

Namun baru sekitar 30 tahun belakangan banyak warga dari 22 Desa di Kecamatan Tulung Selapan yang mencoba mencari nafkah di Provinsi Bangka.

Berkolaborasi dengan Nahdlatul Ulama, GoPay Kembangkan Metode Bersedekah Lewat QR Code

"Baru sekitar tahun 1990 masyarakat banyak yang mencari pekerjaan di Bangka, karena kayu yang dahulu menjadi mata pencaharian utama warga disini sudah tidak ada lagi atau sulit didapatkan," ucap Jauhari, mantan Camat Talang Selapan saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Minggu (22/12/2019) sore.

Hal tersebut diperparah dengan anjloknya harga jual getah karet di Provinsi Sumsel dalam beberapa tahun belakangan.

"Karena disini kebanyakan warga penghasilannya memahat pohon karet, dan harga karet anjlok maka banyak masyarakat memilih merantau ke Bangka," jelasnya.

Pengendara Motor Temukan Bangkai Diduga Anak Harimau di Lahat Viral di Whatsapp, Menuai Perdebatan

Dilanjutkan Jauhari, rata-rata masyarakat yang merantau ke Provinsi Bangka tidak lama dan sering pulang ke OKI, karena menambang timah disana tidak setiap saat.

"Kebanyakan disana tidak menetap karena KTP dan KK juga masih tertuliskan wilayah OKI.

Halaman
12
Sumber: Tribun Sumsel
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved