Breaking News:

Petani di Lahat Masih Pede Sukses Panen dengan Tenaga Sendiri, Ikut AUTP Jasindo Masih Sedikit

"Alasan mereka yang enggan ikut AUTP ada yang yakin tanaman mereka akan berhasil, yang enggak aktif di kelompok ada yang belum tau,"

Penulis: Ehdi Amin | Editor: Refly Permana
sripoku.com/ehdi amin
Petani padi di Lahat saat mulai melakukan penanaman padi di sawah. 

Laporan wartawan Sripoku.com Ehdi Amin

SRIPOKU.COM, LAHAT - Kendati menjadi salah satu solusi jika terjadi gagal panen, Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) kurang diminati petani padi di Kabupaten Lahat. Hal ini terlihat masih minimnya kelompok tani yang tergabung dalam AUTP.

Hal tersebut seperti diungkapkan Plt Kepala Dinas Pertanian Lahat, H Zaini melalui Kepala Bidang (Kabid) Sapras, Herman Suyatno SP didampingi Kasi Pembiayaan dan Investasi, Lenny S SP. Menurutnya, saat ini ada ratusan kelompok tani adi di Bumi Seganti Setungguan.

Kendati demikian, baru 64 kelompok tani yang sudah daftar dalam asuransi dari PT Jasindo tersebut.

Empat Petani Tewas Dipatuk Ular Kobra, Gigitan Berwarna Hitam, Dua Petani Meninggal Tewas di Tempat!

"Sejauh ada 64 kelompok tani di Kabupaten Lahat atau 64 Ha tanaman padi yang didaftarkan dalam AUTP.

Sebenarnya untuk AUTP ini bisa mendaftar melalui lewat online," terangnya, Jumat (20/12/2019).

Lebih lanjut diungkapkanya, masih minim petani masuk dalam AUTP lantaran kurang kesadaran dari petani itu sendiri.

Hanya ada beberapa kelompok tani (Koptan) yang ikut serta, seperti di wilayah Kecamatan Tanjung Tebat, Sukamerindu dan Mulak Ulu.

"Alasan mereka yang enggan ikut AUTP ada yang yakin tanaman mereka akan berhasil, yang enggak aktif di kelompok ada yang belum tau.

Tapi, paling banyak tingkat kesadarannya,"ujar Herman.

Teror Harimau di Pagaralam, Petani Ketakutan, Kawanan Pencuri Incar Hasil Panen Pertanian Warga

Disampaikanya untuk ikut serta dalam AUTP dari PT Jasindo petani hanya dibebankan membayar premi sebesar Rp 36 ribu per hektare.

Jika tanaman padi alami gagal panen hingga 70 persen, maka petani bisa klaim sebesar Rp 6 juta per hektare.

"Ya sebenarnya ini upaya agar perani itu tidak terlalu merugi saat terjadi gagal panen. Ya kita akan terus mensosialisasikanya, "katanya.

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved