Memasuki Musim Libur, Bea Cukai Antisipasi Penumpang Biasa Terima Jasa Penitipan Barang

Kantor Bea Cukai Palembang memperketat pemeriksaan terhadap barang bawaan penumpang terutama yang datang dari luar negeri

Memasuki Musim Libur, Bea Cukai Antisipasi Penumpang Biasa Terima Jasa Penitipan Barang
TRIBUNSUMSEL.COM/Ardiansyah
Petugas Bea Cukai Palembang ketika memeriksa barang bawaan penumpang di Bandara internasional SMB II Palembang, Sabtu (14/12/2019). 

Memasuki Musim Libur, Bea Cukai Antisipasi Penumpang Biasa Terima Jasa Penitipan Barang

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Kantor Bea Cukai Palembang memperketat pemeriksaan terhadap barang bawaan penumpang terutama yang datang dari luar negeri.

Barang bawaan penumpang diperiksa secara detil, bila jumlah bawaan harus dikenakan cukai, maka penumpang harus membayar cukai berdasarkan peraturan pemerintah.

Humas Bea Cukai Palembang Dwi Harwanto menuturkan, biasanya memasuki musim liburan banyak masyarakat Sumsel yang keluar negeri untuk liburan.

Saat inilah, biasanya banyak masyarakat yang memanfaatkan momen ini untuk menerima jasa penitipan barang dari luar negeri.

"Petugas kami biasanya lebih meningkatkan pemeriksaan terhadap barang bawaan penumpang yang baru datang dari luar negeri baik itu Malaysia maupun Singapura. Karena, di masa liburan ini biasanya jasa penitipan barang ramai dilakukan," ujarnya, Sabtu (14/12/2019).

BWF World Tour Final - MomoGi Jadi Trending Topic, Setelah Anthony Sinisuka Ginting Lolos ke Final

Youtuber Cantik Hari Jisun asal Korea Selatan Ajak Mamanya Makan Tempoyak, Lihat Reaksinya!

Menurut Dwi, petugas Bea Cukai Palembang yang ada di Bandara Internasional SMB II Palembang biasanya jeli melihat penumpang yang akan berangkat keluar negeri. Petugas biasanya mengetahui tujuan dari penumpang yang akan berangkat keluar negeri, baik itu urusan bisnis, berobat hingga liburan.

Biasanya, jasa penitipan barang banyak dilakukan penumpang yang pergi liburan. Mereka sekaligus berbelanja tidak hanya membeli barang untuk oleh-oleh tetapi juga membeli barang-barang branded pesanan orang lain. Saat tiba di Indonesia, barang tersebut barulah dipacking dan dikirim ke pemesan.

Modus penumpang seperti ini dengan membuka jasa titipan barang branded, untuk melewatkan barang tersebut dari cukai masuk. Seolah-olah barang tersebut merupakan barang yang akan dipakainya sendiri.

"Untuk limit barang yang tidak dikenakan cukai senilai 500 dolar Amerika. Akan tetapi, kami juga tidak hanya melihat dari sisi nilai uangnya tetapi juga jumlah barang."

"Bila untuk oleh-oleh seperti baju atau gantungan kunci, jumlah barang yang dibawa juga tidak terlalu banyak dan nilainya juga tidak terlalu besar. Ketika diperiksa, bisa kelihatan barang itu untuk oleh-oleh atau barang jasa titipan," ungkapnya.

Ciri-ciri penumpang yang membuka jasa penitipan barang berdasarkan pesanan orang lain juga beragam, tetapi menurut Dwi petugas dilapangan akan lebih jeli dalam memeriksa dan bertanya kepada pemilik barang atas barang yang dibawannya.

Dwi mencontohkan, seperti ada penumpang perempuan yang baru tiba dari Singapura dengan membawa beberapa barang. Salah satu barang yang dibawanya bermerk branded, tetapi secara logika bila barang bermerk tersebut peruntukannya untuk lelaki.

Sehingga, dipastikan barang yang dibawanya tersebut merupakan barang jasa penitipan yang dibelinya untuk sang konsumen.

"Kami memiliki data, biasanya sebelum berangkat akan terlihat penumpang ini tujuannya apa. Berbeda orang keluar negeri mau berobat, urusan bisnis atau liburan. Ini terlihat semua, nanti saat ia kembali inilah pemeriksaan detil dilakukan," ungkapnya. (Ardiansyah/TS)

Editor: adi kurniawan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved