Breaking News:

Hutan Lindung di Pagaralam Rusak, Diperkirakan Ratusan Hektare

Tidak hanya itu, perambahan serta alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan membuat habitat hewan tersebut rusak.

SRIPOKU.COM/WAWAN SEPTIAWAN
Ratusan masyarakat Kota Pagaralam mengikuti sholat Istighosah pasca teror Harimau di Pagaralam beberapa waktu belakangan ini. Sholat istighosa digelar di Masjid Taqwa, Jumat (13/12/2019). 

PAGARALAM, SRIPO -- Teror Harimau yang sempat menghebohkan masyarakat Kota Pagaralam dan Kabupaten Lahat terus terjadi hingga hari ini. Hal ini membuat masyarakat Pagaralam bertanya-tanya, apa penyebab turunnya "Nenek Gunung", sebutan masyarakat Pagaralam tersebut.

Informasi yang dihimpun Sripo, Jumat (13/12), diduga kerusakan hutan lindung menjadi salah satu penyebab binatang buas menyerang manusia. Tidak hanya itu, perambahan serta alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan membuat habitat hewan tersebut rusak. Akibatnya kawasan tutorial binatang buas itu semakin berkurang.

Kepala UPTD KPHL Dempo, Ardiansyah mengatakan, faktor utama terjadinya konflik antara manusia dan harimau ini karena saat ini habitat harimau yaitu hutan lindung sudah rusak dan bekurang.

"Saat ini hutan lindung di kawasan hutan lindung Bukit Dingin dan Jambul Patah Nanti mulai rusak. Ada sebagian kawasan hutan yang beralih fungsi menjadi lahan pertanian. Ada juga yang rusak akibat dirambah," ujar Ardiansyah.

Pihak KPH wilayah X Dempo, belum bisa memastikan jumlah kerusakan. Namun salah satu kerusakan hutan lindung terjadi karena adanya pembukaan hutan lindung oleh salah satu perusahaan.

"Hutan lindung Gunung Patah yang berdekatan dengan Desa Tebat Benawa juga sudah terbuka. Diperkirakan kawasan Hutan Lindung Tapak Tiga sudah terbuka atau rusak sekitar 100 hektare. Karena satu hamparan dengan Hutan Lindung kawasan Simidang Alas," katanya.

Kerusakan ini disebabkan oknum masyarakat selaku perambah hutan. Bahkan pihak KPH sudah menemukan jembatan gantung sebagai akses perambah masuk kawasan hutan lindung.

"Perambah ini ada yang mengambil kayu dan juga ada yang membuka lahan menjadi lahan pertanian. Padahal kami sudah pernah memasang papan larangan di kawasan Tebat Benawa, namun hilang diduga dilepas oleh oknum perambah ini," jelas Ardiansyah.

Sedangkan untuk kerusakan yang disebabkan oleh perusahaan PT S, dua titik kerusakan masuk diwilayah Hutan Lindung Pagaralam. Namun statusnya yaitu pinjam pakai sebanyak 10 hektare.

"Untuk hutan yang dipakai oleh perusahaan itu jelas dan sudah ada surat izin pakainya. Bahkan pihak perusahaan sudah pernah paparan dengan Walikota Pagaralam," ungkapnya.

Hal inilah yang diduga menjadi penyabab harimau mulai menyerang warga. Pasalnya, habitat mereka mulai terbuka akibatnya wilayah bermaian mereka berkurang. Belum lagi aktivitas perburuan yang membuat makanan harimau menjadi berkurang.

Data yang dihimpun menyebutkan, ada dua kantong luasan hutan lindung di kawasan Pagaralam yaitu Hutan Lindung Bukti Dingin yang memiliki luas lahan 2.280,36 hektar dan kantong hutan lindung kawasan Jambul Patah Nanti seluas 23.789,36 hektar yang membentang dari Kabupaten Lahat, Pagaralan dan Muara Enim. (one)

Penulis: Wawan Septiawan
Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved