Niat dan Bacaan Sholat Jumat Bahasa Arab atau Latin, Dilengkapi Sunah & Syarat Sebelum Sholat Jumat

Sholat jumat merupakan shalat yang dilakukan pada hari jum’at seperti masuknya waktu shalat dzuhur yang dikerjakan dua rakaat setelah dua khutbah.

Niat dan Bacaan Sholat Jumat Bahasa Arab atau Latin, Dilengkapi Sunah & Syarat Sebelum Sholat Jumat
SRIPOKU.COM/ANTON
Niat dan Bacaan Sholat Jumat Bahasa Arab atau Latin, Dilengkapi Sunah & Syarat Sebelum Sholat Jumat 

2. SYARAT WAJIB SHOLAT JUMAT

1. Beragama Islam
2. Balligh atau dewasa
3. Berakal atau tidak gila
4. Laki-laki (bagi wanita tidak diwajibkan melaksanakan sholat jumat)
5. Merdeka (bukan budak)
6. Sehat (orang yang sakit tidak diwajibkan)
7. Menetap (bermukim), musafir (mereka yang sedang menempuh perjalanan yang jauh) tidak diwajibkan

8. “Bagi musafir tidak wajib shalat Jumat.” (HR. Daruquthni)

3. SUNNAH-SUNNAH SEBELUM SHOLAT JUMAT

1. Disunahkan untuk mandi
2. Memotong kuku serta mencukur kumis
3. Memakai pakaian yang rapi serta bersih, pakaian diutamakan yang berwarna putih)
4. Memakai wangi-wangian
5. Masuk masjid dengan melangkahkan kaki kanan terlebih dahulu serta membaca do’a masuk masjid.
6. Melaksanakan sholat sunah tahiyatul masjid
7. Ber’itiqaf serta sambil membaca al qur’an, dzikir, serta bersholawat.
8. Ketika khatib telah naik ke atas mimbar hendaknya para jamaah sholat jumat menghentikan dzikir serta bacaan lainnya yang kemudian mendengarkan khotbah jumat.
5. Tata Cara Sholat Jumat

Sholat Jumat disyariatkan untuk dikerjakan secara berjamaah, tidak sah jika sendirian.

Adapun jumlah minimal jamaahnya, para ulama berbeda pendapat.

Ibnu Hajar Al Asqalani menjelaskan dalam Fathul Bari’ bahwa ada 15 pendapat para ulama.

Pendapat paling kuat menurut Sayyid Sabiq adalah, ia telah sah meskipun hanya diikuti dua orang atau lebih.

Tempatnya boleh di kota maupun di desa, di dalam bangunan maupun di lapangan, namun yang paling utama adalah di masjid.

Syaikh Wahbah Az Zuhaili menjelaskan, menurut mazhab Hanafi, dilaksanakan di masjid besar kota.

Menurut mazhab Maliki, masjid yang berada di tengah-tengah penduduk, tidak boleh di kemah/tenda yang menunjukkan mereka adalah musafir.

Halaman
1234
Penulis: Rizka Pratiwi Utami
Editor: Welly Hadinata
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved