Berita Pagaralam

Pendapatan Asli Daerah Minim, Pagaralam Disebut Kota Gagal Berkembang

Hasil evaluasi APBD oleh Dirjen Otda tahun 2018, menempatkan Pagaralam urutan 16 dari 17 kab dan kota di Sumsel nyaris jadi daerah kota tetinggal

Pendapatan Asli Daerah Minim, Pagaralam Disebut Kota Gagal Berkembang
SRIPOKU.COM/WAWAN SEPTIAWAN
Gunung Dempo Pagaralam, Salah Satu Aset Wisata Penyumbang PAD Pagaralam 

SRIPOKU.COM, PAGARALAM - Rencana pembentukan Kabupaten Besemah saat ini terus menjadi perbincangan dikalangan masyarakat Pagaralam. Bahkan saat ini semakin banyak tokoh-tokoh di Pagaralam yang mulai mempertimbangan pembentukan kabupaten Besemah tersebut.

Kabupaten Besemah ini dapat dilakukan dengan menggabungkan beberapa kecamatan di Kabupaten Lahat dengan Kota Pagaralam.

Bahkan terkaitnya minimnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan terus turunnya APBD Kota Pagaralam setiap tahun membuat rencana pembentukan Kabupaten Besemah dinilai bisa menjadi solusi untuk memajukan wilayah Pagaralam dan sekitarnya.

Ketua Presidium Kabupaten Besemah, Arudji Kartawinata mengatakan, beberapa alasan mengapa status kota harus diubah menjadi kabupaten dengan menambahkan beberapa kecamatan di Kabupaten Lahat. Hal ini tidak lain untuk kemajuan daerah ini sendiri.

"Memang sayang jika harus dirubah, pasalnya pemerintahan sudah jalan. Namun ada alasan penting untuk pembentukan Kabupaten Besemah ini yaitu terkait anggaran yang akan didapat jika menjadi kabupaten," katanya.

Secara administrasi pemerintahan Pagaralam saat sudah baik Namun pelaksanaan sebagai kota otonom, mandiri dan berdiri sendiri masih sangat jauh.

"Tidak ada yang salah dengan kondisi Kota Pagaralam saat ini. Namun rencana pembentukan Kabupaten Besemah memang sangat realistis jika melihat kondisi keuangan Kota Pagaralam yang terus saja berkurang setiap tahun," jelasnya.

Anggaran Kota Pagaralam berasal dari APBD dari pusat diatas 85 persen, PAD dbawah 5 persen. Kondisi ini menjadikan Kota Pagaralam termasuk kategori dalam kota berpendapatan rendah.

"Dengan persentase seperti ini Pagaralam termasuk Kota underdeveloped region dan dapat rapot merah tidak bisa naik kelas. Hal ini dikatakan Tjahyo Kumolo bisa bubar, bikin kota tapi tidak mikir PAD," tegas Aruji.

Hasil evaluasi APBD oleh Dirjen Otda tahun 2018, menempatkan Pagaralam urutan 16 dari 17 kab dan kota di Sumsel nyaris jadi daerah kota tetinggal di Sumsel dan selamanya akan tertinggal karena tidak ada sumber pendapatan asli daerah.

Mulai Terbukti? Sudah Diingatkan di Tahun 1995, Presiden Soeharto Ramal Tahun 2020 akan Terjadi Ini!

Pria Mabuk di Bukit Kecil Palembang Ini Cabuli Bocah 9 Tahun Karena Pengaruh Miras yang Diteguknya

BREAKING NEWS: Perempuan 45 Tahun di Prabumulih Tewas Tertabrak Kereta Api

"Hal ini yang harusnya didiskusikan, sudahkah kita berpikir untuk rakyat atau untuk adek sanak didusun laman. Akan percuma pangkat, jabatan, kekayaan kalau tidak bermanfaat untuk orang banyak," katanya.

Kemudian, apa masalahnya, PAD Kota Pagaralam tidak bisa di optimalkan dari 11 item pajak daerah sudah mentok diangka 5 persen karena idealnya 20-25 persen PAD dan 60-75 persen transfer dari pusat.

"Mayoritas masyarakt Kota Pagaralam adalah masyarakat petani, bukan masyarakat perkotaan yang bekerja disektor industri, perdagangan, jasa, transportasi, perhotelan, pariwisata. Jadi susah jika harus dipaksakan menjadi masyarakat perkotaan," tegasnya.(one)

Penulis: Wawan Septiawan
Editor: Budi Darmawan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved